Sutarmidji-Ria Norsan Unggul 55 Persen di Pilgub Kalbar

Jakarta, Sayangi.com – Hasil hitung cepat atau quick count versi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pasangan nomor urut tiga Sutarmidji-Ria Norsan unggul dalam perolehan suara Pilgub Kalimantan Barat. Pasangan yang diusung Golkar, Nasdem, PKB, PKS, dan Hanura memperoleh suara sementara 55,21 persen.

Di urutan kedua, pasangan Karolin Margaret Natasa-Suryadman Gidot. Pasangan yang diusung PDI-P, Demorat, dan PKPI ini memperoleh suara 38,19 persen.

Di urutan ketiga, pasangan yang diusung Gerindra dan PAN, Milton Crosby-Boyman Harun memperoleh suara 6,6 persen. Hasil hitung cepat ini berdasarkan data 26,48 persen suara masuk pada pukul 14.29 WIB. Tingkat partisipasi pemilih berada di angka 79,29 persen. Data memiliki margin of error 1 persen.

Seperti dilansir Antara, calon gubernur Kalimantan Barat nomor urut tiga Sutarmidji-Ria Norsan menyatakan optimistis menang pada Pilkada Kalbar 2018.

“Insya Allah kami menang dan saya tidak ada target khusus menang berapa persen, yang penting menang,” kata Sutarmidji usai mencoblos bersama istri dan dua anaknya di TPS 006, Kecamatan Pontianak Barat, Rabu (27/6).

Dikatakan Sutarmidji, dalam pertarungan pilkada, menang-kalah merupakan hal biasa. Siapa saja yang menang nantinya harus bisa merangkul yang kalah dan yang kalah harus bisa menerima dengan legowo alias ikhlas.

“Yang menang bisa merangkul semuanya, baik itu pemikiran-pemikiran yang bagus dari pihak yang kalah untuk membangun Kalbar agar lebih maju lagi,” katanya.

Secara terpisah, calon Gubernur Kalimantan Barat nomor urut 2, Karolin Margret Natasa menyatakan dirinya siap untuk menang dan kalah pada Pilkada Kalbar 2018.

“Sejak awal kami tegas dan komit mengikuti aturan dalam pilkada ini.Kami siap menang dan siap kalah, tentu saja ini harus selaras dengan penyelenggaraan yang sesuai undang-undang sehingga memenuhi asas keadilan bagi semua pasangan calon,” kata Karolin di Ngabang.

Menurutnya, kemenangan dalam suatu pesta demokrasi adalah milik rakyat, milik semua masyarakat. Oleh karenanya, jika ada sengketa pilkada harus pula ditempuh dengan jalan yang mengedepankan jalur hukum, karena kita adalah negara hukum. “Hukum harus dikedepankan, karena hukum merupakan panglima,” tuturnya.

Mantan anggota DPR itu menegaskan bahwa, seorang pemimpin harus bisa memberi kesejukan bagi masyarakatnya. Jika ada riak-riak yang menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat, pemimpin harus bisa tampil ke depan untuk meredam hal itu.

“Karena pilkada bukan soal mencari menang kalah, tapi mencari pemimpin bagi semua golongan dan kelompok. Keharmonisan yang sudah berjalan baik harus kita jaga, ini akan menjadi prioritas kami pasca-pilkada,” katanya.

Dia juga mengatakan, ketika menjadi Gubernur Kalbar, dirinya akan menjadi gubernur untuk semua kalangan baik yang mendukung mereka maupun pasangan calon lainnya.

“Membangun Kalimantan Barat ini membutuhkan kerja keras bersama, jadi semua kalangan harus dilibatkan,” kata Karolin.