Kebijakan Imigrasi Trump Picu Demontrasi Seluruh AS

Presiden AS Donald Trump di lapangan golf miliknya di Bedminster, New Jersey.Foto aftabir
Presiden Donald AS Trump di lapangan golf miliknya di Bedminster, New Jersey.Foto aftabir

Washington,Sayangi.com- Ribuan orang berdemontrasi di depan Gedung Putih, Washington D.C, Amerika Serikat pada Sabtu (30/6) waktu setempat. Para demontran membawa spanduk bertuliskan “Keluarga Harusnya Bersama” dan meneriakan kata “Memalukan”.

Aksi yang berlangsung didepan Presiden Donald Trump sebagai wujud protes atas kebijakan imigrasi yang ditetapkan Trump.Belum lama ini Trump menerbitkan kebijakan memisahkan orang tua dan anak imigran ilegal yang tertangkap di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko.

Salah seorang demontran Aneice Germain kepada Reuters mengatakan cara pemerintahan Trump memperlakukan keluarga, cara mereka memperlakukan imigran, itu bukan (cara) Amerika.

Aksi serupa bjuga berlangsung di New York. Ribuan orang mengikuti longmarch di Jembatan Brooklyn sembari membawa banner “Make Amerika Humane Again (Buat Amerika Manusiawi Lagi)” dan “Imigran diterima di sini”.

Sementara itu dari Chicago juga dikabarkan ribuan orang berkumpul dan berjalan bersama ke kantor Imigrasi Federal. “Saya di sini karena keluarga harusnya bersama,” ungkap Cindy Curry salah satu peserta aksi yang ikut dalam longmarch di Chicago.

Demonstrasi menentang kebijakan imigrasi Trump juga berlangsung di kawasan perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Demonstran memblokade sebagian jalur di jembatan yang menghubungkan El Paso, Texas dengan Ciudad Juarez, Meksiko.

Stephen Miller, penasehat gedung putihjuga tidak luput dari demonstran. Belasan orang berdemonstrasi di depan rumah Miler di Washington. Miller dikenal sebagai orang yang memberi nasehat kepada Trump untuk menerapkan kebijakan imigrasi ketat. Para peserta aksi di didepan rumah Miller membawa spanduk bertuliskan “Miler, kami tahu di mana Anda tidur.

Demonstrasi pro-imigran kali ini dianggap terbesar sejak 2010. Protes besar terkait isu imigran sebelum terjadi pada 2010 untuk meminta Presiden Barack Obama dan Kongres meninjau ulang sistem imigrasi Amerika Serikat.

Penolakan dari publik ini muncul setelah Trump menerapkan kebijakan “zero tolerance” untuk imigran ilegal pada Mei 2018. Dampak kebijakan itu lebih dari 2.000 anak-anak yang masuk secara ilegal ke Negeri Paman Sam dipisahkan dalam kamp berbeda dengan orang tuanya.

Pemisahan anak-anak dari orang tuanya itu menuai kecaman secara global termasuk pemimpin umat Katolik dunia Paus Fransiskus. Sejumlah politisi Partai Republik yang mengusung Trump juga ikut mengecam Trump.

Setelah kecaman makin kencang, pada 20 Juni Trump meminta imigran ilegal ditahan bersama dengan anak-anaknya. Hakim federal ikut memerintahkan keluarga disatukan kembali.

sumber: reuters