Buronan Ditangkap, Pemerintah Malaysia Akan Kirim Surat Ucapan Terimakasih ke Jokowi

Kapolri Tito Karnavian
Kapolri Tito Karnavian

Jakarta, Sayangi.com – Polri berhasil meringkus seorang buronan Polis Diraja Malaysia (PDM) bernama Datuk Seri Jamal Yunus, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Jamal yang terlibat sejumlah kasus ini meninggalkan Malaysia secara ilegal pada Rabu (13/6) lalu.

Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian mengatakan, bahwa dirinya telah mendapat telepon dari kepala PDM. Intinya, PDM mengapresiasi kinerja Polri dalam membantu pihaknya mengamankan buronan yang selama ini dicari.

Selain itu, kata Tito, Kepala PDM juga menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahatir Muhammad, akan menyampaikan terimakasih kepada Presiden Jokowi. Dalam waktu dekat ini, Malaysia akan mengirimkan surat resmi ucapan terimakasih kepada pemerintah Indonesia.

“Pak Mahatir Muhammad nanti juga akan menyampaikan terimakasih ke Bapak Presiden Jokowi,” ujar Tito di Mabes Polri, Selasa (3/7).

Surat ucapan terimakasih ini, sambung Tito, merupakan bentuk apresiasi pemerintah Malaysia. Pasalnya, Indonesia dan utamanya Polri telah membantu memperlancar penyidikan dan investigasi kasus yang ada di Malaysia.

Kapolri juga menjelaskan, bahwa Jamal akan dideportasi ke Malaysia dalam waktu dekat ini. Pengawalan Jamal kembali ke negara asalnya akan dilakukan oleh pihak PDM.

“Polis Diraja Malaysia hari ini akan tiba di sini dan melakukan pengawalan pasca deportasi. Yang bersangkutan akan diterbangkan dengan maskapai Malaysia Airlines,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebelum diamankan, Kepala Polisi Malaysia menghubungi Tito untuk memberi informasi tentang Jamal dan meminta bantuan untuk menangkapnya, karena ada indikasi Jamal berada di Indonesia. Menurut Tito, sebelum tiba di Jakarta, Jamal diketahui sempat singgah di Medan, Sumatera Utara.

Akhirnya penyidik Polri berhasil menangkap Jamal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin (2/7) dan langsung dibawa ke Rutan Polda Metro Jaya.

Jamal diburu polisi sehubungan sembilan kasus yang dikaitkan terhadapnya, termasuk salah satunya kasus dugaan korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menyeret mantan Perdana Menteri Malaysia.