Tolak Politisasi SARA, PKS: Kami Ingin Menang Secara Bermartabat

Diskusi Publik bertajuk "Pemilu Damai Tanpa Politisasi SARA" di Up2yu Resto & Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (9/7). (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pipin Sofyan mengatakan, sejak awal PKS ingin melahirkan pemimpin bangsa sesuai dengan Pancasila dan UD 1945 yang berbhineka tunggal ika.

Karenanya, kata dia, PKS menolak adanya politisasi SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan), dan membuat ujaran kebencian atas dasar SARA.

Meski demikian, Pipin mengatakan, tidak ada masalah jika ada pemilih memilih calon pemimpin berdasarkan preferensi SARA. Misalnya, orang Sunda memilih orang Sunda juga, orang Islam memilih balon pemimpin Islam.

“Bagi PKS, yang tidak boleh adalah memberikan kebencian atas dasar SARA atau politisasi SARA. Misalnya saya orang Sunda, lalu ada yang bilang jangan pilih orang Sunda, jangan pilih orang Batak dan sebagainya,” kata Pipin dalam Diskusi Publik bertajuk “Pemilu Damai Tanpa Politisasi SARA” di Up2yu Resto & Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (9/7).

Sebagai partai Islam, kata Pipin, PKS ingin menang dengan cara bermartabat. Karenanya, PKS tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.

Menurutnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemilu ke depan. Pertama, saling menghargai pilihan, berikan kebebasan kepada pemilih untuk memilih siapa pemimpinnya.

“Jangan merendahkan seorang pemilih yang memilih karena keyakinannya,” kata dia.

Yang kedua, lanjut dia, pentingnya netralitas penyelenggara. Menurutnya, kalau penyelenggaranya tidak netral, maka yang terjadi adalah chaos.

“Yang ketiga, kita menghendaki penegakkan hukum yang adil dan tidak memihak. Jangan sampai rezim berkuasa, kalau ada pihak lawan yang bermasalah, diusut sampai selesai. Tapi kalau bukan lawan, tidak seperti itu,” pungkasnya.

Hadir juga dalam diskusi tersebut, Politisi PDI Perjuangan Effendi MS Simbolon, Mantan Jubir HTI Ismail Yusanto, Politisi PKS Machfud Sidik, Mantan Politisi Demokrat Ruhut Sitompul, Pengamat dari Indonesia Public Institute Karyono Wibowo dan Pengamat Politik Wempi Hadir.