Pengarahan Panjang Kapolri dan Panglima TNI Kepada 724 Capaja di Mabes TNI

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat menyampaikan pembekalan kepada 724 orang Calon Perwira Remaja Tahun 2018 di Gedung Olahraga Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Rabu (18/7).

Jakarta, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto memberikan pembekalan kepada 724 orang Calon Perwira Remaja Tahun 2018 di Gedung Olahraga Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Rabu (18/7).

724 Calon Perwira tersebut berasal dari Akademi TNI 446 orang (TNI AD: 225 orang, TNI AL: 102 orang, TNI AU: 119 orang ) dan Akademi Kepolisian 278 orang.

Acara diawali dengan laporan Capaja Angkatan Darat kepada Kapolri yang dilanjutkan dengan kata pengantar dan pembacaan riwayat hidup Kapolri oleh Danjen Akademi TNI.

Dalam pembekalannya Kapolri Tito Karnavian menyampaikan pentingnya soliditas antara TNI dan Polri demi persatuan bangsa. Tito juga mengajak para calon perwira remaja untuk berfikir kritis.

“Sebagai sarjana, adik-adik harus bertanya kritis, apa Indonesia masih bisa pecah? Kita lihat dalam akademik untuk ambil kesimpulan, itu adalah metode komparatif,” kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (18/7).

Tito mencontohkan beberapa negara yang lebih tua, bahkan lebih kuat dari Indonesia bisa pecah akibat beberapa persoalan. Tito sempat menyebut Uni Soviet hingga Yugoslavia.

Ia ingin para capaja untuk mewaspadai potensi perpecahan itu. Khususnya potensi perpecahan yang diakibatkan dari dalam negeri.

“Bukan saya mengamini, tetapi ada potensi. Bung Karno pernah bilang, menghadapi musuh luar lebih mudah dari (musuh dari) dalam,” kata Tito.

Keberagaman Indonesia yang memiliki 714 suku serta 1.100 bahasa daerah masih tetap bersatu dan menjadi kekuatan bangsa karena semangat Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Tito kemudian menjelaskan, potensi perpecahan tersebut bisa muncul dari faktor internal berupa kesenjangan ekonomi antarkelas yang belum bisa diselesaikan di Indonesia. Indonesia masih didominasi oleh kelompok low class. Dibandingkan dengan Singapore disana kelas menengahnya lebih besar, negara yang kuat adalah negara yang midle class nya besar.

Tidak hanya itu, tantangan dalam menjaga kerukunan bangsa juga bisa datang dari konflik yang bernuansa SARA. Hal itu menurutnya sudah terlihat dengan maraknya aksi bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama.

Yang kedua, menurut Tito adalah faktor ekternal yakni politik Internasional dunia. Di Indonesia sistem demokrasi liberal telah membawa euforia yang dalam perjalanannya turut membawa dampak positif dan negatif bagi Indonesia.

“Dampak negatifnya, ini dapat menyebabkan konflik hotizontal di kalangan masyarakat bawah. Kebebasan yang tak terkendali juga berpotensi untuk berkembangnya ideologi radikal yang berlawanan dengan Pancasila. Solusinya adalah kembali ke Demokrasi Pancasila dengan prinsip-prinsip kepancasilaan,” kata Tito.

Dalam konteks dinamika politik global, Tito menekankan bahwa karena di dunia ini tidak ada pemerintahan dunia sehingga terjadi hukum rimba yakni siapa yang kuat dia yang menang. Karena itu TNI dan Polri kontribusinya sangat penting dalam menciptakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat.

“Kompetinsi global saat ini diwarnai dengan kompentisi ekonomi untuk menguasai yang lain. TNI dan Polri memiliki peran yang sangat penting karena tersebar diseluruh Indonesia dengan jumlah personel yang besar, persenjataan, militan dan komando tunggal. Jika ingin melemahkan negara ini adu domba saja anggota TNI-Polri nya. Saat ini menguasi negara lain tanpa berperang secara konvensional, kini dengan cyber attack dengan sasaran sektor energi, finansial dan transportasi,” kata Tito.

Indonesia, kata Tito, memiliki potensi untuk menjadi negara dominan karena didukung dengan Populasi yang besar, sumber daya alam melimpah untuk produksi dan wilayah yang luas.

“Indonesia berpotensi untuk menjadi negara dominan / major power dengan syarat menjaga pertumbuhan ekonomi diatas 5%, stabilitas politik dan keamanan terkendali dengan baik. Disinilah pentingnya TNI-Polri untuk menjaga stabilitas keamanan agar pembangunan ekonomi terus tumbuh,” kata Tito.

Pada kesempatan tersebut, Tito juga mengapresiasi institusi Polri dan TNI yang dalam berbagai survei terus mendapat kepercayaan publik.

“Di era Demokrasi ini mendapat kepercayaan dari masyarakat menjadi sangat penting, diberbagai survei TNI-Polri masih dipercaya oleh publik. Berikan tampilan yang baik terhadap masyarakat, jangan arogan terhadap masyarakat. Dipolri saya berlakukan reward and punishment bagi yang berprestasi akan saya berikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa, promosi Jabatan dan sekolah tanpa test. Bagi yang berbuat pelanggaran langsung saya copot jabatannya,” katanya.

Seorang pemimpin, menurut Tito, harus memiliki power, follower dan konsep. Selain metodelogi dan referensi juga diperlukan knowledge.

“Pengetahuan ini bisa kita dapatakan dengan pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Jangan berhenti di StrK, silakan ambil jenjang pendidikan yang lainnya, teman angkatan kalian hari ini akan menjadi lawan kompetisi kedepannya yang semakin transparan,” tegas Kapolri.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Pembekalan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang menekankan mengikuti pendidikan di Akademi tidaklah mudah harus mengikuti segala aturan. Hadi memotivasi para Capaja agar menjadi abdi negara yang pintar dan militan

“Capaja kalian harus menjadi perwira yang pintar, modern, dan militan. Besok kalian akan diliantik oleh presiden menjadi seorang perwira maka kalian akan menjadi seorang pemimpin. Jangan pernah berhenti untuk belajar dan berlatih karena suatu saat nanti kalian akan menggantikan kami,” kata Hadi.

Menurut Hadi, Revolusi industri 4.0 yang berkembang saat ini banyak membawa perubahan antara lain ancaman cyber dan rekasaya biologis. Sinergitas TNI-Polri harus tetap solid dalam menjaga keutuhan NKRI dan itu dapat kami buktikan dalam penyelenggaraan Pilkada 2018.

“Sebentar lagi kita akan melaksanakan perhelatan akbar Asian Games, pertemuan IMF dan world Bank, Tahapan Pemilu 2019 TNI-Polri tidak boleh lengah,” katanya.

Kegiatan ini dihadiri oleh kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Siwi Sukma Adji,SE, MM, Kepala Staf Angkatan Laut Marsekal TNI Yuyu Sutisna, SE, S.Sos, MM, Danjen Akademi TNI Laksamana Madya TNI Aan Kurnia,S.Sos beserta Pejabat Utama TNI lainnya, Kalemdiklat Polri Komjen Pol Drs Unggung Cahyono beserta Pejabat Utama Mabes Polri Lainnya, dan Para Gubernur Akademi.