Polisi Amankan Ribuan Butir Ekstasi Asal Perancis yang Dikendalikan Napi di Lapas Cipinang

Polisi amankan ribuan ekstasi asal Perancis yang dikendalikan Napi dari Lapas Cipinang. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Ditresnarkoba Polda Metro Jaya berhasil mengamankan seorang kurir narkoba berinisial RS di wilayah Pejompongan, Tanah Abang, pada Jumat (13/7) sore. Dari tangan pemuda 17 tahun tersebut, polisi menyita satu buah tas dengan empat plastik ekstasi berjumlah 2.915 butir.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, narkoba tersebut dikirim langsung dari Perancis, melalui kiriman paket. Modusnya, ekstasi dikamuflasekan dengan dibungkus baju anak.

Setelah ditelusuri, kata Argo, pemesan narkoba tersebut ialah seorang narapidana Lapas Cipinang berinisial AS. AS ditahan karena kasus pencucian uang hasil transaksi narkoba.

“Jadi dalam kasus itu kita amankan dua tersangka berinisial RS dan AS. RS saat ini masih dibawah umur, sementara AS adalah napi di Lapas Cipinang karena masalah money laundry narkotika,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (20/7).

Argo juga menyampaikan, pengiriman narkoba itu didalangi oleh seorang warga negara Nigeria bernama Paul. Paul sendiri saat ini masih masuk dalam DPO Polda Metro Jaya.

“Jadi RS itu yang menyuruh (mengambil paket narkoba) AS, dalangnya diduga masih berada di luar negeri, dia WN Nigeria. Ini jaringan terputus, barang ada di RS dan kedua tersangka tidak saling kenal semua, mereka berkomunikasi dengan handphone,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Dony Alexander mengatakan, saat ini pihaknya tengah menelusuri darimana AS mendapatkan ponsel di Lapas. Keberadaan AS sendiri berhasil diketahui, saat pihak kepolisian berkoordinasi dengan pihak Lapas Cipinang.

“Kita koordinasi dengan pihak Lapas, kita dapat AS ini dari Cipinang,” jelasnya.

Dalam ungkap kasus kali ini, polisi bersama pihak kejaksaan juga turut memusnahkan barang bukti ekstasi yang disita. Ribuan butir ekstasi berbagai warna tersebut dimusnahkan dengan cara diblender.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat dengan pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1, subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 UU Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang narkoba. Dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau hukuman mati.