LIPI Daftarakan 3 Cagar Biosfer ke UNESCO Paris

Foto The Art Newspaper
Foto The Art Newspaper

Jakarta,Sayangi.com- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah mengajukan tiga lokasi 3cagar biosfer kepada UNESCO. Ketiga cagar biosfer yang didaftar agar mendapat pengakuan adalah Berbak di Sembilang, Betung Kerihun di Danau Sentarum, dan Gunung Rinjani di Lombok.

Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto lewat keterangan pers, Senin (23/7/2018) menuliskan “LIPI sebagai focal point program manusia dan biosfer UNESCO di Indonesia bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Serta pemerintah daerah akan terus mempromosikan cagar biosfer untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Langkah tersebut merupakan wujud kontribusi LIPI dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dalam cagar biosfer.Sejak 1977 hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 11 cagar biosfer.

Cagar biosfer sendiri merupakan tempat untuk membentuk pengelolaan berkelanjutan melalui berbagai program seperti manajemen Sumber Daya Alam (SDA) dan ekosistem, pengembangan jasa lingkungan, serta penelitian dan pengembangan (litbang). Sementara sisi lain Cagar Biosfer adalah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat.

Bambang menghimmbau agar pihak swasta khususnya pelaku usaha baik di Indonesia dan negara lain bisa meningkatkan implementasi hasil penelitian dalam mendukung industrialisasi.

Selain hal tersebut lewat releasenya Wakil Kepala LIPI ini menjelaskan bahwa untuk bisa mendorong pengelolaan SDA diperlukan keterlibatan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang tertuang di sustainable development goals/SDGs) pada 2030.

Adapun Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno menyatakan ada perubahan arah kebijakan dimana masyarakat sekarang dijadikan subyek dalam pegelolaan dan konservasi SDA.

Wiratno juga menekankan pentingnya modal sosial berupa jejaring dan kemitraan para pemangku kepentingan. Dukungan modal sosial, kata Wiratno, akan meningkatkan efektivitas pengelolaan SDA.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto menyatakan sumber daya hutan Indonesia memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Agus mengatakan untuk memastikan adanya pemanfaatan ekonomi sekaligus pada saat yang bersamaan mengkonservasi hutan, memang ada tantangan yang harus dihadapi. Disinilah peran penting litbang menentukan.

“Litbang bisa menyediakan pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk memahami hubungan antara sumber daya alam dan sistem sosial yang bisa mendukung perencanaan kebijakan yang terintegrasi,” katanya.

Dia menekankan, sesuai dengan tujuan pembangunan Indonesia saat ini dan komitmen Indonesia di forum Internasional, litbang akan fokus pada upaya mendukung perlindungan konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pada saat yang sama mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.