Fahri ke PKS: Jadi Pemimpin Jangan Sok Tahu

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah/Foto: Sayangi.Com

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali melontarkan kritikan pada pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dalam akun akun Twitter pribadinya, @Fahrihamzah, dia mengaku pernah menjadi saksi ketika seorang pimpinan di PKS berbuat salah. Bahkan dia tidak bisa tidur melihat perbuatan yang salah dilakukan pimpinan partainya tersebut.

Hal itulah yang membuat Fahri terus melakukan kritikan pada pimpinan, sebab mereka juga manusia biasa.

Di PKS, saya pernah melihat pimpinan berbuat salah, saya pernah menjadi saksi betapa fatalnya kalau pimpinan salah dan saya pernah hampir tidak tidur untuk mengurusi akibat kesalahan pimpinan. Ini yang mungkin membuat saya tetap harus kritis karena pimpinan juga manusia biasa,” cuit Fahri di akun Twitternya, Sabtu (4/8).

Dalam cuitan selanjutnya, Fahri menasehati pimpinannya dengan bercerita sebuah kisah Nabi Muhammad SAW yang kala itu berdebat dengan seorang sahabat.

Suatu hari, Nabi SAW berdebat dengan seorang sahabat yg sedang “mengawinkan” pohon kurmanya. Nabi bertanya, “kenapa kalian lakukan itu”, sahabat menjawab, “dengan begini kurma akan menjadi baik”. Kata nabi SAW, “tanpa kalian apapun akan jadi baik”. Lalu sahabat itu taat.

“Ketaatan” sahabat kepada nabi suatu hari berakibat buruk. Buah kurma menjadi jelek, dan Nabi datang bertanya, “kenapa kurma kalian jelek?”. Sahabat itu menjawab, “ya Rasul, karena kau melarang perkawinan itu, maka kurmanya menjadi jelek”. Demikian jawab sahabat terang,” lanjut Fahri.

Setelah itu, keluarlah hadits terkenal” antum a’lamu bi umuriddunyakum”. Artinya,”kalian lebih paham urusan dunia kalian”. Demikianlah, Nabi Muhammad SAW yang mulia, yang dekat dengan TuhanNya juga pernah mengoreksi kesalahannya. Seorang Nabi, kekasih Allah SWT.

Pemimpin harus rendah hati, jangan sok tahu. Jangan merasa pasti benar dan tidak bisa salah. Jika berbuat salah, tak ada salahnya melakukan koreksi. Jangan keras kepala sebab kesalahan pimpinan berakibat fatal kepada kita semua. Mari perbaiki jamaah. Tegakkan Hisbah!.

Diketahui, Mahkamah Agung (MA) memutuskan menolak kasasi PKS.

Ditolaknya kasasi PKS, maka Fahri berhak mendapat ganti rugi imateril sebesar Rp 30 miliar dan dikembalikan posisinya sebagai anggota partai.

Perseteruan antara Fahri dan PKS bermula dari hasil evaluasi Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO) PKS terhadap kinerja Fahri sebagai pimpinan DPR setelah beberapa kader PKS mengadukan Fahri karena merasa terganggu atas sikap Fahri yang dinilai terlalu membela Ketua DPR RI kala itu yang politisi Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) selama tersandung kasus ‘Papa minta saham’ dan kasus dugaan korupsi e-KTP, bahkan hingga akhirnya Setnov ditahan oleh KPK.

Sejumlah politisi PKS itupun kemudian mendesak agar Fahri mundur dari posisi Wakil Ketua DPR. Bahkan, waktu itu Ketua Fraksi PKS di DPR RI, Jazuli Juwaini, juga sempat menegur agar Fahri tidak terlalu banyak berkomentar soal Setnov di media.

Namun, Fahri berdalih bahwa dirinya sudah mengambil sikap diam dan tak pernah berkomentar lagi. Hanya saja menuru Fahri, ada sebuah stasiun TV swasta yang terus mengulang pernyataannya.