Pengamat Minta Koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin Waspadai Strategi Belah Bambu

Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat politik Karyono Wibowo meminta partai pendukung dan pengusung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin untuk tetap solid. Pasalnya, ada beberapa pihak yang merasa kecewa dengan keputusan Jokowi menunjuk Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya.

Menurut Karyono, keretakan sudah mulai terasa di salah satu partai pengusung Jokowi-Ma’ruf, yakni Golkar. Hal ini terlihat setelah politisi Golkar, Fadel Muhammad yang mengklaim, banyak kader Golkar yang merapat ke pasangan Prabowo-Sandiaga.

“Ungkapan Fadel Muhammad menunjukkan bahwa perpecahan di tubuh Golkar perlu menjadi perhatian serius oleh tim koalisi bakal calon presiden Jokowi – Ma’ruf,” ujar Karyono dalam keterangannya, Sabtu (25/8).

Selain Golkar, sambung Karyono, yang perlu diperhatikan koalisi Jokowi – Ma’ruf adalah dinamika yang menggeliat di internal Nahdlatul Ulama (NU). Adanya pro dan kontra di dalam NU tak bisa dianggap remeh, karena sejumlah sinyal yang memberi tanda ketidakkompakan di kalangan nadhiyin cukup kuat.

“Munculnya dinamika perbedaan pandangan di tubuh Golkar dan NU bisa disebabkan dua alasan yaitu antara kekecewaan politik (political disppointment) dan permainan politik (political game),” katanya.

Karyono menilai, saat ini arah politik tidak berada di garis lurus, sehingga sulit ditebak. Seperti yang kita saksikan saat ini, orang bijak atau orang awam cenderung menilai Golkar dan NU akan bulat mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf karena cara pandangnya disasarkan pada etika dan komitmen moral.

“Tapi faktanya tidak demikian, perspektif orang bijak dan orang awam ternyata meleset. Mungkin karena kepolosannya dan idealismenya atau kurangnya informasi tentang anatomi NU dan Golkar,” tuturnya.

Perilaku politik yang cenderung dua kaki seperti itu bisa berpotensi menimbulkan konflik permanen. Disadari atau tidak,   perilaku elit politik seperti itu telah mengajarkan politik yang mengabaikan etika.

“Maraknya berbagai faksi di internal organisasi hendaknya jangan dipandang remeh karena dampaknya bisa menimbulkan segregasi dalam hubungan sosial organisasi,” jelasnya.

Dalam kontestasi elektoral dengan sistem demokrasi saat ini memang sulit dihindari adanya berbagai macam manuver untuk memenangkan perhelatan kekuasaan. Setiap kontestan cenderung menggunakan segala cara untuk memenangkan pertarungan.

“Ada banyak cara,  salah satunya adalah menggunakan strategi politik “belah bambu”, yaitu memecah basis pendukung lawan. Strategi ini dilakukan agar basis-basis pendukung lawan politik pecah, dengan demikian  diharapkan bisa men-downgrade elektabilitas lawan,” terang Karyono.

Hingga saat ini, lanjut Karyono, Jokowi masih unggul di mayoritas segmen pemilih. Survei terbaru LSI Denny JA menunjukkan posisi elektabikitas Jokowi – Ma’ruf 52,2 persen, Prabowo – Sandiaga 29,5 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 18,3 persen. Ada selisih 22,7 persen.

“Namun demikian, pertarungan masih belum selesai, waktu masih cukup panjang. Dinamika politik masih bisa membuat tingkat dukungan naik turun. Volatilitas dukungan masih bisa terjadi, yang paling penting adalah mewaspadai strategi belah bambu dari lawan politik jangan sampai menjadi bola liar,” pungkasnya.