Anhar Gonggong: Pendiri Indonesia, Orang Muda Terdidik Tercerahkan

Sejarawan Anhar Gonggong saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Kebangsaan yang digelar oleh PGK, 24-26 Agustus 2018. (Andhika/ PGK)

Jakarta, Sayangi.com – Sejarawan terkemuka Indonesia Anhar Gonggong mengingatkan kembali perjuangan para pemuda dalam mendirikan negeri ini. Menurut Anhar, para pemuda di masa lalu adalah sosok-sosok yang lebih mementingkan bangsa daripada diri mereka sendiri.

Pernyataan Anhar ini selain mengingatkan kembali sejarah juga sekaligus memberikan semangat terhadap ratusan pemuda yang menjadi peserta pelatihan kepemimpinan bangsa yang digelar oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR, Puncak, Bogor, 25 Agustus 2018.

“Kalian harus ingat, yang mendirikan Indonesia itu adalah orang-orang muda yang terdidik tercerahkan. Saya sengaja menggunakan istilah terdidik tercerahkan karena belum tentu orang terdidik itu tercerahkan. Ada profesor doktor masuk penjara karena korupsi, ya kan? Otaknya hebat tapi hatinya beku,” kata Anhar.

Orang-orang terdidik tercerahkan tersebut kata dia, yang memulai mencari rumusan diri mereka. Mereka mempertanyakan setiap apa yang mereka lihat.

Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi memberikan cenderamata kepada Anhar Gonggong

“Orang yang berpendidikan itu berpikir dia mempertanyakan apa yang dia lihat. Dia bertanya, siapa dirinya. Kalau dia tidak berpendidikan, dia tidak akan mempertanyakan itu. Ketika dia bersinggungan dengan yang lain, lalu dia menanyakan, siapa saya, siapa Anda,” cetusnya.

Anhar kemudian mengingatkan kembali tentang sejarah berdirinya bangsa ini, termasuk juga tentang kiprah dan peran para pemuda, mulai dari yang terlibat dalam Gerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Menurut Anhar, bangsa ini jauh sebelum bernama bangsa Indonesia memiliki beberapa nama terlebih dahulu. Dari sebutan Nusantara berganti menjadi Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1800 ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bangkrut. Dalam kondisi demikian, pemerintah Belanda membuat nama baru yang berkaitan dengan nama mereka, yakni Hindia Belanda.

Dalam perjalanannya, jelas Anhar, Pemerintah Belanda “terpaksa” memberikan pendidikan untuk rakyat Hindia Belanda. Tujuannya agar mereka dapat membantu Belanda dalam mengelola perkebunan dan pertambangan. Namun kemudian munculnya orang-orang yang berpendidikan ini menjadi “duri dalam daging” bagi Belanda. Mereka secara perlahan mencoba melawan kolonialisme Balanda.

“Bahkan sampai ada seorang Gubernur Jenderal yang menyatakan menyesal memberikan pendidikan lebih cepat kepada orang Hindia Belanda,” cetusnya.

Ketika para pemuda Hindia Belanda merasa memiliki kekuatan, secara perlahan mereka mencoba membuat perkumpulan dan organisasi. Sehingga pada berdirilah Organisasi Gerakan Budi Utomo pada tahun 1908.

Mengenai asal muasal nama Indonesia sendiri setelah pergantian dari nama Hindia Belanda, kata Anhar, itu melalui proses dialogis yang panjang. Kata Indonesia adalah sesuatu yang baru, yang terformulasikan melalui dialog dan penelitian yang sangat panjang. Sebelum 1900, bangsa yang bernama Indonesia nyaris tak ada. Sebuah penelitian misalnya, menunjukkan, istilah “Indonesia” telah ditemukan dan muncul pada 1850, di mana kata “Indonesia” muncul pertama kali dalam tulisan James Richardson Logan, seorang ahli hukum kelahiran Skotlandia yang tinggal di Penang, “The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders”. Nama ini kemudian dipopulerkan dipopulerkan oleh Profesor Adolf Bastian dari Universitas Berlin dalam Indonesien oder die Inseln des Malayichen Archipels (1884), istilah Indonesia menjadi pilihan para intelektual untuk menggantikan “Hindia Belanda”.

Kata Indonesia dalam pengertian politik resmi digunakan untuk mengganti nama Hindia Belanda pada 1908.

Pemimpin Itu Harus Melampaui Dirinya

Dalam kesempatan ini, Anhar yang merupakan ahli sejarah Universitas Indonesia ini juga mencoba memberikan perspektif baru tentang seorang pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin itu adalah orang yang bersedia melampaui dirinya.

“Jika dilihat dari usia, para pemimpin itu banyak melakukan proses perumusan diri mereka di usia 18-23 tahun. Sutomo mendirikan organisasi Budi Utomo itu saat berumur 20 tahun,” ujarnya.

“Jadi kalian pemuda memiliki peranan yang besar dengan sadar bahwa Indonesia ini dibangun oleh orang-orang muda. Soekarno-Hatta ketika banyak berkiprah dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia itu masih berumur  23 sampai 24 tahun.”

Kenapa para pemuda itu mampu? Menurut Anhar, karena pemuda saat itu merupakan kumpulan manusia kreatif yang yang bersedia mengorbankan diri mereka demi Indonesia.

“Jadi pemimpin itu orang yang bersedia melampaui dirinya dan biasanya pemimpin itu adalah orang terdidik. Kalau mereka mau menempuh jalan umum, mereka tinggal mencari pekerjaan. Mereka bekerja dengan pemerintah kolonial Belanda dan mereka mendapatkan upah. Jadi kalau mereka mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, enak. Sebab memang pendidikan mereka diperlukan. Tapi mereka justru bersedia menderita, keluar-masuk penjara,” jelasnya.

Oleh karenanya, tegas Anhar, pemimpin itu harus mampu “menyimpang”. Artinya ia berani keluar dari zona nyaman.

“Dan, Andaikata pemimpin di masa lalu itu tidak menyimpang, dia tidak akan masuk penjara. Apa artinya itu? Dia melampaui diri. Dia meninggalkan hal biasa yang biasa dikerjakan oleh orang-orang pada umumnya,” tegasnya.

“Kalau sekarang ada pemimpin masuk penjara, karena yang dia pikir dirinya dulu. Orang dulu nggak, dia justru berkorban. Itulah yang membangun Indonesia.”