Mantan Wakil Ketua MPR: Rakyat Jangan Sampai Alergi Terhadap Politik

Hajrianto Y Thohari saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Bangsa di Wisma DPR, Puncak, Bogor, 26 Agustus 2018

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari meminta agar masyarakat tidak menjauhi politik, apalagi sampai alergi terhadap politik. Sebab politik sangat penting dalam menentukan arah bangsa ini.

“Tidak semestinya putra-putra terbaik bangsa alergi terhadap politik, karena dia sangat menentukan perjalanan bangsa,” kata Hajriyanto saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR, Puncak, Bogor, 25 Agustus 2018.

Pernyataan ini disampaikan karena kekhawatirannya menyusul citra politik yang terus merosot dan terus bergeser ke arah yang negatif. Hal itu menyebabkan banyak kader-kader bangsa yang tidak mau terjun ke panggung politik.

“Ketika banyak anak-anak bangsa kelas satu tidak mau terjun ke politik itu kerugian yang besar bagi negeri ini, karena kepemimpinan politik itu sangat penting dan sangat menentukan,” kata politikus senior Partai Golkar ini.

Oleh karena itu, ia meminta agar para pelaku politik atau actor-aktor politik mengembalikan citra sekaligus tujuan politik kepada khittahnya, yakni mengabdi dan berjuang untuk kepentingan rakyat.

“Jadi, kita harus memiliki semangat bagaimana kembali menjadikan politik itu dalam kehidupan yang bagus dan mulia, kehidupan yang bermartabat. Kita mesti menjadikan menjadikan politik itu memiliki daya tarik bagi masyarakat,” jelasnya.

Kepemimpinan Ide, bukan Figur

Untuk mengembalikan marwah politik tersebut kepada khittahnya, ia menegaskan urgensi kepemimpinan politik itu sendiri. Menurutnya, apa yang mesti diprioritaskan dalam kepemimpinan politik adalah ide dan cita-cita.

“Karena signifikansi kepemimpinan politik, maka di sinilah perlunya kepemimpinan ide dan gagasan, kepemimpinan cita-cita. Itu semua lebih penting dari sekadar kepemimpinan politik berdasarkan figuritas tertentu.

“Yang lebih penting bukan kepada figur, kalau kita masih memegang komitmen pada figur tentu itu hanya komitmen kita karena adanya kesamaan gagasan dan cita-cita kita. Tapi intinya itu yang terpenting adalah kepemimpinan gagasan. Jadi kalau kita masih berpikir pada tokoh A, tokoh B itu mesti diubah, karena yang paling tinggi adalah pada cita-cita.”

Menurut Hajrianto, jika kepemimpinan politik disematkan pada figuritas maka ada kemungkinan terjadi perubahan jalan di tengah jalan. Misalnya, ketika figur politik loncat ke partai lain, maka ada kecenderungan juga loncak ke partai yang dituju figure tersebut.

“Makanya loyalitas jangan diletakkan kepada figur tertentu,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Hajrianto juga menyinggung tentang instrumen kepemimpinan politik, di mana salah satunya dapat dilihat dari faktor historis. Menurutnya, meletakkan kepemimpinan politik ini pada dimensi historis, maka bangsa ini tidak akan putus dari sejarah perjalanannya.

“Kalau kita lihat perjalanan bangsa ini, kita akan melihat para Bapak Bangsa kita adalah orang-orang yang sebagian besar bergerak di bidang politik,” ujarnya.

Dalam konteks kesejarahan, ia menegaskan bahwa para Founding Fathers tidak hanya tampil ke panggung politik dengan modal aktivisme saja. Mereka juga memiliki intelektualisme.

“Ada perpaduan antara aktivis dengan intelektual; aktivisme intelektualisme. Para pemimpin kita adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi intelektual sekaligus aktivis. Jadi mereka sangat artikulatif secara moral maupun secara literal. Ketika mereka berpidato, gagasan dan pemikiran mereka sangat progresif. Dan jarang sekali mereka pidato dengan teks,” kata Hajrianto.

Kekuatan intektualisme pendiri bangsa ini kata dia, banyak terlihat dari buku-buku ataupun memoar pemikiran mereka.

“Coba lihat banyak buku-buku yang ditulis sebagai pemikiran politik mereka. Ada HOS Tjokroaminoto, Sukiman, M Nasir, Agus Salim. Mereka adalah intelektual-intelektual yang fasih secara lisan dan secara literal. Ada juga Tan Malaka hingga Bung Hatta. Bahkan Bung Hatta termasuk pemimpin bangsa yang sangat produktif menulis,” pungkasnya.