Media Korut Tuduh Amerika Serikat ‘Berwajah Ganda”

Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong un saat KTT Singapura 2018. Foto Vox
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong un saat KTT Singapura 2018. Foto Vox

Pyongyang,Sayangi.com- Media Surat kabar Rodong Sinmun Korea Utara (Korut) pada minggu (26/8) waktu setempat menuduh Amerika Serikat (AS) berwajah ganda. Surat kabar yang dikendalikan pemerintah menuliskan Amerika (AS) memiliki rencana jahat terhadap Pyongyang.

Surat kabar tersebut menuliskan laporan unit khusus AS yang berbasis di Jepang sedang melakukan latihan udara. Latihan tersebut akan ditujukan pada infiltrasi ke Pyongyang.

Surat kabar itupun menuliskan Tindakan-tindakan semacam itu membuktikan bahwa AS sedang membangun rencana kriminal untuk melancarkan perang melawan Republik Rakyat Demokratik Korut (DPRK) dan melakukan kejahatan.

AS layak mendapatkan hukuman Tuhan tanpa ampun jika AS gagal dalam skenario denuklirisasi DPRK yang tidak adil. AS sibuk melakukan latihan rahasia yang melibatkan unit khusus pembunuhan manusia, sementara terpancar dialog dengan senyum di wajahnya,” tambah pernyataan dalam koran tersebut.

Dilansir dari SCMP Selasa (28/8) saat dikonfirmasi seorang juru bicara Kedutaan Besar AS di Seoul mengaku belum memiliki informasi mengenai pernyataan yang dikeluarkan oleh surat kabar Korut itu. Juru bicara militer AS di Korea Selatan (Korsel) juga tidak bersedia untuk berkomentar dengan segera.

Isi surat kabar yang tidak menyebut pembatalan kunjungan Menlu AS Pompeo ini mendesak Washington untuk menghentikan pertaruhan militer tanpa tujuan. AS juga diminta menerapkan perjanjian Singapura yang telah disepakati pada Juni lalu.

Negosiasi di antara kedua negara telah dilakukan sejak Juni lalu saat KTT Presiden Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura masih menemui jalan buntu.

Dari pihak AS lewat Pompeo mendesak langkah jelas Korut mengakhiri program nuklirnya. Sementara Pyongyang menuntut Washington membuat konsesi pertamanya sendiri. Sejak KTT di Singapura, kedua belah pihak berupaya untuk mempersempit perbedaan dalam program nuklir balistik Korut.

Pemerintahan Trump mengatakan kesepakatan damai dan konsesi lainnya hanya datang setelah denuklarisasi. Untuk meyakinkan Korut, Trump menunda latihan militer bersama dengan Korea Selatan (Korsel), namun latihan skala kecil masih terus berlanjut.

Terkait hasil kesepakatan Singapura, Trump menyalahkan Cina karena kurangnya kemajuan dengan Korut. Ia menyarankan pembicaraan dengan Pyongyang bisa ditahan sampai setelah Washington menyelesaikan perselisihan perdagangan dengan Beijing.

Cina lantas membalas komentar Trump dengan menyebutkan komentar Trump dinilai tak bertanggungjawab.