Masinton Sebut Gerakan #2019GantiPresiden Sebagai Revolusi Banci

Diskusi Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertajuk 'Gerakan #2019 Ganti Presiden: Upaya Inkonstitusional Mengganti Presiden' di Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat, Selasa (28/8). (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu menilai gerakan hastag 2019 ganti presiden (#2019GantiPresiden) merupakan gerakan revolusi yang malu-malu. Karena, kelompok penggerak gerakan 2019 ganti presiden ingin mengganti kepemimpinan nasional.

“Gerakan tagar 2019 ganti presiden ini gerakan revolusi yang malu-malu, revolusi banci. Tujuan strategis pertamanya adalah mengganti presiden di tengah jalan. Tapi karena gak didukung kekuatan besar, akhirnya gerakan ini cuma bisa mendowngrade elektabilitas Jokowi” kata Masinton dalam diskusi Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertajuk ‘Gerakan #2019 Ganti Presiden: Upaya Inkonstitusional Mengganti Presiden’ di Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat, Selasa (28/8).

Anggota Komisi III DPR ini juga membantah jika gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan sosial dari masyarakat. Pasalnya, menurut Masinton, pelaku gerakan itu adalah orang partai politik.

“Kalau dikatakan ini gerakan politik ya memang gerakan politik, karena tuntutannya itu ganti presiden. Mana ada gerakan sosial teriak-teriak ganti presiden. Pelakunya juga partai politik, yang menentang pembubaran HTI, yang selalu bersebrangan dengan pemerintah,” terangnya.

Masinton menilai, apa yang dilakukan aparat melarang gerakan tersebut sudah tepat. Karena menurutnya, gerakan ganti presiden ini argumentasinya adalah kebencian.

“Apa yang dilakukan aparat menurut saya sudah tepat dalam rangka kamtibmas. Ketika gerakan-gerakan ini vulgar, provokatif ya wajar ada yang menentang. Kan ada aksi, ada reaksi,” ujarnya.

Dia juga menyindir kelompok penggerak gerakan tagar anti presiden yang mengaku adalah orang-orang yang netral dan tidak berpihak kepada salah satu calon presiden.

“Kalo ada yang bilang kelompok ganti presiden tidak berpihak pada capres, lah gak mungkin. Kontestan pilpres ini cuma dua, kalo tolak Jokowi ya pasti Prabowo. Contoh, Ahmad Dhani itu nyalon dari Gerindra, bahkan dia mau jual rumah buat biaya Prabowo nyapres. Trus dia bilang netral? Preeet,” pungkasnya.