Pengamat: Gerakan Tagar Tidak Mencerdaskan Masyarakat

Ray Rangkuti. (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti mengaku kurang setuju dengan tindakan berlebihan pelarangan, pembubaran, dan persekusi atas gerakan #2019GantiPresiden. Menurutnya, pelarangan yang berlebihan dan pembubaran acara tersebut tidak demokratis.

Meski demikian, menurut dia, tagar tersebut juga tidak mencerdaskan masyarakat justru berujung sloganistis.

“Akibatnya, masyarakat demokratis yang seharusnya disuguhi oleh gagasan-gagasan dan ide-ide yang dipertarungkan, ditumpulkan hanya menjadi sekadar ganti presiden,” kata Ray dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (4/9).

Dia berpendapat, tagar tersebut bisa dimaklumi saat sebelum capres mengerucut menjadi dua sekarang yang telah mendaftar ke KPU. Namun, kini dengan dua pasangan yang telah mendaftarkan ke KPU tentu publik harusnya diberi tahu, siapa presiden yang ingin diusung dan apa visi, misi, dan gagasan-gagasannya.

“Sekarang, ya, kalau tidak Pak Jokowi, ya Pak Prabowo. Gagasan apa yang dibawa sehingga harus ganti presiden ini harus disampaikan, kalau tidak mendukung calon, presidennya bukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo, misalnya, lalu siapa, idenya apa, gagasannya seperti apa,” katanya.