Dobrak Belenggu Tradisional Perempuan Afghanistan Memasuki Kerja Jurnalistik

Wartawati di stasiun TV Afganistan. Foto Reuters
Wartawati di stasiun TV Afganistan. Foto Reuters

Kabul, Afghanistan,Sayangi.com- Pasca jatuhnya Taliban, saat ini Afghanistan memiliki lebih dari 100 stasiun radio, hampir 80 jaringan televisi dan ratusan penerbitan. Namun, perempuan Afghanistan nyaris tak memiliki alasan untuk merayakan kondisi tersebut sebab kehadiran mereka di media masih belum terserap dengan baik.

Namun media Xinhua berhasil mewancarai beberapa perempuan Afganistan yang bekerja di sektor media. Saat wawancara dengan Xinhua Selasa malam (4/9), beberapa wartawati “The Kabul Times”. Koran The Kabul Times adalah adalah satu-satunya surat kabar berbahasa Inggris yang dikelola negaraAfganistan.

Para wartawati tersebut menerangkan saat bekerja tidak sedikit mereka sejumlah ancaman yang harus mereka taklukkan.  Massouda Qariszada, seorang wartawati yang telah memiliki 10 tahun pengalaman kerja di berbagai media termasuk The Kabul Times,menyebutkan  ancaman wartawati Afganistan adalah budaya yang kejam.

Sedangkan ancaman lain yang mengintai adalah,kontrak yang berisi diskriminasi, lingkungan kerja yang berbahaya, persaingan yang tidak sehat di kalangan sesama pekerja,imbuhnya. Namun hal tersebut takkan menghalangi dia bekerja di media massa.

Bekerja sebagai jurnalis, Saya mendapat dukungan penuh keluarga.  Saya tidak bekerja untuk mencari uang, sebab saya tak memiliki masalah ekonomi. Saya bekerja untuk mewujudkan nilai pendidikan saya, dan saya mau bekerja untuk melayani bangsa saya,” tandas Massouda.

Bagi Shukria Kohistan, seorang wartawati yang sudah menggeluti pekerjaannya selama lebih dari 10 tahun, dunia jurnalistik berfungsi sebagai keinginan dan alat untuk membantu meningkatkan hak perempuan. Sebab melalui tulisannya ia telah berbuat sangat banyak buat kaum perempuan, terutama dengan mewawancarai beberapa janda dan mengangkat suara serta kepedihan mereka.

Dilansir dari Antara Rabu (5/9) Kohistan, ,mengatakan bermacam ancaman dan intimidasi terhadap wartawati masih ada di masyarakat Afghanistan.

“Ketika saya keluar rumah untuk meliput satu peristiwa, orang akan berkata `mengapa seorang perempuan mesti menjadi wartawati. Dan mengapa  kaum  mereka tidak tinggal di dalam rumah`,” kata Kohistan.

Sementara Karima Malikzada, juru foto harian tersebut tak jarang menerima ancaman pembunuhan dan intimidasi serius dari beberapa pria tak dikenal yang bersenjata.Namun Karima tak mempunyai cara lain selain terus bekerja. Kedua orang tuanya terbunuh dalam perang saudara. Ia menjadi tulang punggung bagi  adik perempuannya, yang lama menderita sakit.