Polri Akan Mulai Kembali Penyidikan Kasus Pembunuhan Munir Bila Ditemukan Novum

Kabareskrim Komjen Pol Arief Sulistyanto. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan Kabareskrim Komjen Pol Arief Sulistyanto, untuk kembali menyelidiki kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Penelitian itu untuk mencari tahu mengenai perlu atau tidaknya kasus tersebut untuk dikembangkan, setelah Pollycarpus Budihari Prijanto bebas.

Menanggapi hal tersebut, Kabareskrim Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto mengatakan, pada 2004 kasus ini dianggap telah P21. Namun, ia menegaskan Polri tidak pernah menutup kasus yang pernah menjadi sorotan dunia internasional ini.

“Sehingga tidak ada istilah kapan dibuka (berkas kasus tersebut). Kami tidak pernah membuka dan menutup berkas,” ujar Arief di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (7/9).

Menurut Arief, hingga saat ini kasus pembunuhan Munir masih terus dikembangkan. Bila ditemukan bukti baru, Polri akan kembali melanjutkan penyidikan kasus ini.

“Kalau ada bukti dan fakta hukum baru, maka akan dimulai lagi. Begini, apabila ditemukan fakta baru (novum) maka Polri pasti akan melanjutkan penyidikan itu,” jelasnya.

Polri, kata Arief, tidak hanya menunggu, ditemukan bukti namun juga mencari bukti baru. Terkait statemen Komisioner Komnas HAM Chairul Anam yang menyebut, ada rekaman antara Pollycarpus dengan mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi PR, Arief mengaku belum mengetahuinya.

“Rekaman percakapan dari mana, ini harus masuk ke dalam penyidikan,” katanya.

Sebagai salah satu penyidik yang bertugas dalam kasus pembunuhan Munir, Arief mengakui, kasus tersebut termasuk rumit. Oleh karena itu, Polri akan terus mencari fakta baru terkait kasus tersebut

“Dasar penegakan hukum oleh Polri yaitu berdasarkan fakta hukum hasil penyelidikan dan penyidikan. Itu yang dijadikan informasi,” katanya.

Seperti diketahui, Munir dibunuh pada Selasa, 7 September 2004 silam dalam perjalanan dari Jakarta menuju Asterdam, Belanda. Ia dipastikan dibunuh karena dalam tubuhnya ditemukan racun jenis arsenik yang melebihi ambang batas.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan Pollycarpus sebagai tersangka. Saat kejadian, Pollycarpus berada di kelas bisnis pesawat Garuda Indonesia GA-974 bersama dengan Munir.