Tahun Baru Hijriyah, MUI Ajak Umat Islam Menjaga Persaudaraan Kebangsaan

Wakil Ketua Umum MUI. Zainut Tauhid Sa'adi. (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Seluruh umat Islam merayakan tahun baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah, yang jatuh pada hari ini Selasa (11/9). Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Zainut Tauhid Sa’adi mengajak umat Islam senantiasa meningkatkan toleransi, keseimbangan, dan bersikap adil.

“Umat Islam juga diharapkan tidak lagi terkungkung dalam perdebatan yang sifatnya kurang substansial atau furuiyah dalam menjalankan ajaran agama. Sikap-sikap ini demi mewujudkan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyyah) dan persatuan umat (wihdatul ummah),” ujar Zainut dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, sebaiknya energi umat dimaksimalkan untuk mengembangkan wawasan kebhinekaan sejati serta penciptaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun dan harmonis.

“Umat Islam diharapkan saling menghormati dan mencintai serta menolong dalam persaudaraan kebangsaan atau ukhuwah wathaniyyah. Terlebih dalam menjaga persaudaraan kebangsaan pada tahun politik ini,” katanya.

Zainut juga mengingatkan, kepada para elit politik agar dapat lebih menahan diri. Semua pihak juga harus menghindari suasana kebangsaan yang semakin panas, tegang dan melahirkan kecurigaan.

“Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah tetap terpelihara,” tuturnya.

Dijelaskan Zainut, perbedaan pilihan politik berbentuk saling menjelekkan dan memfitnah, menyebarkan hoaks, serta ujaran kebencian justru memunculkan pendidikan politik yang kurang baik bagi masyarakat. Perilaku seperti itu justru berpotensi menumbuhkan gesekan dan meretakkan bangunan kebangsaan yang telah lama dijaga.

“Kami berharap 1440 Hijriyah ini dapat meningkatkan amal kebajikan agar dapat memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat manusia, bangsa dan negara,” katanya.

Lebih jauh Zainut mengajak seluruh pihak perduli dan bergandengan tangan meringankan beban korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sehingga tatanan masyarakat yang adil, bahagia, sejahtera lahir dan batin dapat terwujud.

“Bantuan itu sebagai bentuk refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, kepedulian dan saling menolong antarsesama dalam kebajikan dan ketakwaan,” pungkasnya.