Skotlandia Cabut Penghargaan Aung San Suu Kyi

Barney Crockett Dewan kota Aberdeen, Skotlandia inisiator cabut penghargaan Freedom of Edinburgh untuk Aung San Su Kyi. Foto BBC
Barney Crockett Dewan kota Aberdeen, Skotlandia inisiator cabut penghargaan Freedom of Edinburgh untuk Aung San Su Kyi. Foto BBC

Edinburg,Sayangi.com- Pemerintah kota Aberdeen, Skotlandia, memutuskan untuk mencabut tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi. Hal tersebut lantaran Suu Kyi dianggap membisu di tengah kecaman keras soal kekejaman terhadap warga minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Pencopotan Penghargaan dilakukan setelah dewan kota setuju untuk mengambil langkah tersebut. Pencopotan penghargaan untuk Aung San Suu Kyi diusulkan oleh anggota dewan kota Barney Crockett. Anggota dewan kota ini mengatakan, “Saya kira tanda penghargaan ini diganti saja dengan penghargaan yang menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia.”

Pemerintah kota Aberdeen membuat tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi atas permintaan organisasi hak asasi manusia, Amnesty International. Penghargaan tersebut diberikan ke Suu Kyi sepuluh tahun silam.

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 saat ia menjalani tahanan rumah di Rangoon. Penghargaan serta hadiah diberikan kepadanya sebagai penghargaan atas upayanya mendorong demokratisasi dan penghormataan terhadap hak asasi manusia.

Setelah pemilihan umum di Myanmar pada 2015 ia diangkatkan menjadi penasehat negara, yang pada praktiknya adalah kepala pemerintahan sipil.

Dua tahun kemudian pecah gelombang kekerasan di negara bagian Rakhine setelah milisi Rohingya menyerang pos-pos polisi, menewaskan 12 aparat keamanan. Merespons insiden ini, militer Myanmar menggelar operasi dengan dalih menumpas milisi Rohingya.

Aksi-aksi kekerasan telah pecah yang membuat masyarakat internasional menuduh aparat keamanan Myanmar membunuh warga Muslim. Selain itu masyarakat Internasional juga menuduh militer Myanmar membakar desa-desa warga muslim Rohingya.

Akibat kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar Ratusan ribu warga Muslim Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh guna menghindari gelombang kekerasan.Saat ini Jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh mencapai lebih dari 700.000 orang.

Pejabat PBB menggambarkan apa yang dilakukan militer Myanmar sebagai “jelas-jelas pembersihan etnik”. Tuduhan PBB tersebut ditolak oleh pemerintah dan militer Myanmar.

Tim penyelidik PBB menemukan bukti dugaan kuat telah terjadi pembantaian, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.Tim Penyelidik PBB yang dipimpin Marzuki Darusman dari Indonesia merekomendasikan agar jenderal-jenderal Myanmar diadili.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengatakan mereka membuka kemungkinan mengadili jenderal-jenderal Myanmar. Meski Myanmar bukan negara anggota ICC, namun krisis ini telah berdampak ke Bangladesh, yang merupakan negara anggota ICC.

Di saat kebrutalan dan kekejaman terhadap warga minoritas Muslim Rohingya terjadi, Aung San Suu Kyi tidak mengutuk atau mengevam keras tindakan militer Myanmar. Sikap yang dilakukan Suu Kyi sangat disayangkan masyarakat internasional.

Bulan lalu, penghargaan Freedom of Edinburgh bagi Aung Saan Suu Kyi dibatalkan. Menyusul Kota-kota lain seperti Glasgow, Newcastle, dan Oxford, juga mencabut tanda penghormatan untuk Suu Kyi.

Di luar itu, masyarakat dari berbagai negara mengajukan petisi agar hadiah Nobel Perdamaian baginya dibatalkan saja. Aung San Suu Kyi dianggap tak berbuat banyak guna mencegah gelombang kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. Akan tetapi Komite Nobel mengatakan hadiah untuk Suu Kyi tidak akan dicabut.

sumber:BBC news