Komisi Perlindungan Jurnalis Tuding Pers Pakistan Makin Ditekan

Para Jurnalis Pakistan melakukan demontrasi menuntut adanya kebebasan pers. Foto Reuter
Para Jurnalis Pakistan melakukan demontrasi menuntut adanya kebebasan pers. Foto Reuter

Islamabad,Sayangi.com- Sebuah kelompok pengamat media global mengatakan, iklim kebebasan pers di Pakistan memburuk. Pengamat tersebut juga menuding militer yang berpengaruh di negara itu secara diam-diam namun efektif mendorong swasensor.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (12/9), Komisi Perlindungan Jurnalis (CJP) mengatakan, temuannya itu didasarkan pada wawancara dengan sejumlah wartawan. Wawancara tersebut melihat misi organisasi itu CJP ke Pakistan yang dilakukan tahun ini.

Dilansir dari VOA news Kamis (13/9) meski demikian,Riset CJP mencatat adanya penurunan jumlah pembunuhan atau kekerasan terhadap jurnalis di Pakistan. Sebelumnya dan hingga kini negara Pakistan dikecam sebagai salah satu negara dengan jumlah kematian wartawan paling banyak di dunia.

Kordinator Program Asia CJP ,Steven Butler mengatakan menurunnya jumlah pembunuhan wartawan sementara sebagai berita menggembirakan. Pemerintah perlu mengambil tindakan yang dapat mengonter tekanan-tekanan yang mengakibatkan swasensor dan ancaman terhadap media,tandas Butler.

Laporan CJP menyebutkan Militer telah menutup akses ke beberapa wilayah dengan menggunakan tindakan intimidasi secara langsung dan tidak langsung.  Kondisi ini memicu kekerasan yang dilakukan militer terhadap kuli tinta untuk mencegah munculnya laporan-laporan yang mengecam,” ungkap laporan itu.

Serangan-serangan kekerasan di Pakistan selama satu dekade lalu telah menewaskan 22 pekerja media. Militer, dinas intelijen, atau kelompok-kelompok politik terkait militer diduga sebagai sumber yang memicu sebagian serangan brutal terhadap jurnalis.