Jajakan Perempuan Dibawah Umur Melalui Facebook, Tiga Pria di Tanjung Priok Diamankan

Pengungkapan kasus prostitusi anak dibawah umur di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok.

Jakarta, Sayangi.com – Tiga Pria ini harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran terlibat kasus prostitusi anak dibawah umur. Dalam melancarkan aksinya, ketiga pelaku memanfaatkan media sosial Facebook.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok AKP Faruk Rozi mengatakan, ketiga pelaku berinisial AK (28), AN (33) dan LK (20). Mereka ditangkap pada Agustus hingga September 2018 di tiga lokasi berbeda.

“Ketiga-tiganya ini berprofesi sebagai mucikari melalui media online, dimana yang perempuan (PSK) masih dibawah umur,” ujar Faruk di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (13/9).

Para pelaku, sambung Faruk, memposting foto-foto perempuan muda di Facebook. Ketika ada yang memesan perempuan yang ditawarkan, pelaku mengantarkan perempuan tersebut ke hotel yang telah disepakati.

“Para pelaku posting foto perempuannya, yang mau menggunakan jasa tinggal pilih, dipesan. Setelah itu mucikari membawa perempuan ke hotel yang telah ditentukan, yang menentukan hotel itu pelanggannya,” terangnya.

Lebih jauh Faruk menjelaskan, pelaku memasang tarif Rp1 juta hingga Rp1,5 juta untuk sekali kencan. Pelaku mengambil 75 persen dari uang tersebut, sementara 25 persen untuk perempuan yang dipasarkannya.

“Biasanya tarifnya Rp 1,5 juta untuk sekali kencan. Keuntungan yang diperoleh Rp1 juta buat pelaku dan Rp500 ribu buat perempuan yang diperjualbelikan,” jelasnya.

Biasanya pelaku mencari korban gadis dibawah umur yang putus sekolah di wilayah Tangerang dan Bogor. Pelaku menjanjikan uang yang besar, bila ikut dengannya bekerja di Ibu Kota.

“Korban kebanyakan tinggal di Tangerang dan Bogor. Kasus ini juga tidak ada pemaksaan, ibaratnya ada take and gift, murni desakan ekonomi,” pungkasnya.

Dalam kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti pakaian yang dikenakan korban, kwitansi tanda pembayaran, kartu ATM sebagai transaksi pembayaran, kunci kamar yang digunakan, dan beberapa handphone milik korban.

Atas perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 2 ayat (1) UU RI No. 21 tahun 2007 tentang subsider pasal 45 Jo pasal 27 ayat (1) UU No. 11 tahun 2008 dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.