Mer-C Himbau Pemerintah Perpanjang Tanggap Darurat Bencana Sulawesi Tengah

Dr Yogi Prabowo dan dr Arief Rachman saat Konferensi pers di kantor Mer-C, Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Jumat (12/10/2018). Foto Istimewa
Dr Yogi Prabowo dan dr Arief Rachman saat Konferensi pers di kantor Mer-C, Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Jumat (12/10/2018). Foto Istimewa

Jakarta,Sayangi.com- Gempa bumi berkekuatan M 7,4 mengguncang Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018, disusul tsunami setinggi 2,2-11 meter dengan jangkauan hingga 500 meter hingga kini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Merujuk Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) bencana tersebut hingga hari ini telah menewaskan  2.073 jiwa, 10.679 orang terluka, dan 87.725 orang mengungsi.

Berdasarkan masalah di lapangan, seperti pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, perbaikan sarana dan prasarana, pembangunan hunian sementara, penanganan medis, perlindungan sosial, dan pembersihan puing bangunan yang belum terselesaikan, maka Mer-C meminta Pemerintah Pusat memperpanjang masa tanggap darurat.

Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) dr Arief Rachman mengusulkan agar pemerintah tidak segera mencabut status tanggap darurat bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah. Arief mengatakan pencabutan status tanggap darurat bencana bisa berdampak buruk terhadap penanganan medis korban bencana.

Saat konpres pada Jumat (12/10) dr Yogie Prabowo dari Mer-C menyatakan  Perpanjangan masa tanggap darurat  diperuntukan untuk  pembangunan hunian sementara mengingat korban bencana mancapai ribuan. Perpanjangan masa tanggap darurat juga diharapakan  untuk merespon kebutuhan penanganan pengungsi baik secara medis atau pemenuhan kebutuhan dasar.

Tanggap darurat yang diperpanjang akan  mempermudah  distribusi bantuan logistik, pembersihan puing bangunan belum terselesaikan, serta pembukaan jalan ke lokasi yang masih terisolasi. Sampai hari ini listrik yang masuk masih 90 persen,ungkap dokter Yogi