IPW Beberkan 5 Kasus Pencatutan Tito, Polda Metro Diminta Segera Tangkap Indonesialeaks

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane

Jakarta, Sayangi.com – Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Polda Metro Jaya segera mengusut kasus hoax Indonesialeaks dan menangkap pelakunya.

Menurut Neta, pengusutan itu penting dilakukan agar dugaan kasus fitnah serta pencatutan nama Kapolri Tito Karnavian tidak terus berulang.

“Sehingga tidak menjadi bahan manuver politik yang menimbulkan kegaduhan di tahun politik ini,” kata Neta kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Masih menurut Neta, kasus pencatutan nama Kapolri Tito Karnavian bukan pertama kali ini terjadi. IPW mencatat, sudah lima kali nama Tito dicatut pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, baik untuk manuver politik ataupun untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Yang paling anyar, menurut Neta adalah kasus Rahmat yang mengaku ngaku sebagai Sespri Kapolri Tito Karnavian menipu seorang pengusaha Rp 1 miliar. Kepada korbannya, pelaku selalu menunjukkan foto bareng dengan Tito dan yang bersangkuta berhasil diciduk polisi minggu lalu.

Terkait kasus ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, AA merupakan pengusaha yang bergerak di bidang IT dan ingin masuk tender proyek di Polri. Dengan bermodal foto bersama Kapolri, akhirnya AA percaya bahwa Rahmat adalah Sespri Kapolri.

“Dia berhasil berfoto dengan Kapolri dengan cara menyelinap. Bermodal foto itu akhirnya korban percaya pelaku memang sespri Bapak Kapolri,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Selasa (9/10).

Argo menjelaskan, apa yang dilakukan RH telah mencoreng nama Polri dan khususnya Tito Karnavian sebagai Kapolri. Menurutnya, setiap tender proyek di Polri telah memakai e-catalogue yang menjamin transparansi.

“Dia ini juga pernah nipu di Yogyakarta memakai baju polisi berpangkat AKP. Ia juga diketahui pernah melakukan penipuan juga di Makassar,” katanya.

Di tempat yang sama, Rahmat mengaku uang hasil penipuan dibagi dengan tiga rekannya dan ia mendapat jatah Rp 550 juta. Sementara, rekan pelaku berinisial AL VR dan HR masing-masing mendapat Rp 150 juta.

“Uangnya sudah buat saya belikan tanah di Palembang, tapi sudah dijual, sudah saya belikan perabotan. Saya ngaku ajudan Pak Kapolri,” kata Rahmat yang saat itu diborgol polisi.

Bermodal Foto Bersama Kapolri, Pria Ini Tipu Pengusaha Hingga Rp 1 Miliar

Ngaku Sespri Kapolri, Pria di Depok Menipu Pengusaha Hingga Rp 1 Miliar

Kasus kedua, Menurut Neta, pencatutan nama Tito Karnavian juga pernah terjadi 2016 dalam Kasus Labora Sitorus. Saat itu nama Tito sebagai Kapolda Papua disebut sebut menerima aliran dana dari Labora, padahal pada periode itu Tito belum menjadi Kapolda Papua, bahkan Tito yang membongkar kasus Labora.

Ketiga, lanjutnya, bulan Oktober 2017 Titin Hendriko mengaku ngaku sebagai keponakan Kapolri Tito Karnavian dan menipu sejumlah orang yang hendak masuk polisi hingga dia meraup Rp 1,5 miliar. Pelaku ditangkap polisi di Jateng.

Keempat, nama Tito Karnavian disebut sebut Indonesia Leaks telah menerima aliran dana dalam kasus daging. Tapi Ketua KPK Agus Raharjo sudah membantah adanya aliran dana tersebut. Kasus dugaan hoax Indonesia Leaks hingga ini belum diusut polisi, padahal sudah menimbulkan kegaduhan politik.

Kelima, beberapa hari lalu Habel Yahya ditangkap polisi. Sebab ia bersama Febri mengaku mendapat Skep Kapolri Tito Karnavian untuk memegang konsesi besi bekas atau besi tua di PT Freeport, Papua. Berdasarkan Skep palsu ini Habel dan Febri berhasil menipu enam pengusaha besi tua di Surabaya hingga meraup puluhan miliar rupiah.

“Semua kasus pencatutan nama Kapolri Tito Karnavian ini berhasil dibongkar dan diciduk polisi pelakunya, kecuali kasus hoax yang diduga dilakukan Indonesia Leaks yang menuduh Tito menerima aliran dana daging,” pungkas Neta.