Buruh Rokok 369 Mengadu ke Kapolri Karena Dugaan Kecurangan Kepailitan Perusahaan

Jakarta, Sayangi.com – Ratusan buruh dari perusahaan rokok 369 (Sam Liok Kieu) berunjuk rasa di depan Mabes Polri, Rabu (17/10). Mereka meminta kepada Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian memberikan perhatian khusus terhadap proses hukum pembuatan surat palsu dan menempatkan keterangan palsu, dalam akta otentik yang diduga melibatkan Direktur PT Surya Sentral Diafroma (SSD) Hermanto Tedjadipura.

“Surat dan keterangan palsu inilah yang menjadi dasar perusahaan rokok yang berdiri sejak 1992 ini diputus pailit oleh Pengadilan Tata Niaga Surabaya. Kami meminta perhatian khusus Kepada Kapolri agar jajarannya menuntaskan kasus ini seadil-adilnya,” ujar Ciharso Distana, pengurus perusahaan rokok 369.

Awalnya, perusahaan rokok milik Goenadi terlambat membayar tagihan saus rokok dari pemasok PT SSD, dengan tagihan yang sekitar Rp 766 juta dan Rp 924 juta. Keterlambatan pembayaran dikarenakan perusahaan harus membayar pita cukai dan pajak sesuai surat edaran Menteri Keuangan tentang Permenkeu Nomor 20 Tahun 2018. Surat edaran ini perihal pengambilan pita cukai yang jatuh temponya pada bulan Januari atau Februari 2016, diwajibkan membayar pada akhir Desember 2015.

“Saudara Hermanto Tedjadipura memerintahkan Ibu Sari dan pengacaranya Wahyu Ongko Wiyono datang sekitar April 2016 ke perusahaan kami untuk menagih. Kami ada niat baik dan disepakati untuk membayar dengan satu unit mesin HLP/pengepakan dobel bendel isi 16 batang merek mollins dengan harga pasaran Rp 2,5 miliar sampai Rp 3 miliar. Kami juga berniat mengembalikan beberapa saus rokok Rp 353 juta yang yang belum kami gunakan, masih segel, untuk mengurangi tagihan,” paparnya.

Distana menjelaskan, penawaran dari Sari akan dibicarakan dengan Hermanto terlebih dahulu. Namun tiba-tiba perusahaan mendapat panggilan surat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 4 agustus 2016 dengan pemohon PT Surya Sentral Diaroma dan Hermanto, yang diwakili penasehat hukum Wahyu Ongko Wiyono. Saat itu, Goenadi merasa janggal dengan adanya dua kreditur, sebab dirinya hanya berhutang kepada satu pihak yakni PT Surya Sentral Diaroma dengan direktur Hermanto Tedjadipura.

“Kami curiga hal itu mengada-ada demi kepailitan, karena syarat sebuah perusahaan bisa dipailitkan itu karena ada hutang yang tidak bisa dibayar, kepada minimal dua kreditur atau pemberi hutang,” terangnya.

Akhirnya pada 24 Oktober 2016, perusahaan rokok 369 diputus pailit oleh Pengadilan Tata Niaga Surabaya. Karena merasa hanya berhutang dengan satu pihak, laporan polisi dibuat di Polda Jawa Timur, dengan tuduhan pembuatan surat palsu dan menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik oleh Hermanto.

Namun pada akhirnya laporan ini berujung dikeluarkannya Surat Penghentian Penyidikan (SP3) pada 12 Oktober 2018. Sebelumnya penanganan kasus tersendat, perusahaan sempat melapor ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada Agustus 2018.

“Untuk SP3 ini keluar bertepatan waktunya dengan surat pemberitahuan adanya gelar perkara dari Bareskrim. Keluar SP3 siang, surat pemberitahuan gelar perkara pagi,” tandasnya.