Sering Kritik Kebijakan Perang Narkoba Duterte Misionaris Australia Dideportasi

Biarawati Patricia Anne Fox asal Australia dideportasi dari Filipina, Foto Reuters
Biarawati Patricia Anne Fox asal Australia dideportasi dari Filipina, Foto Reuters

Manila,Sayangi.com- Pemerintah Filipina resmi mencabut visa misionaris Patricia Anne Fox seorang biarawati Katolik Australia. Otoritas Filipina memerintahkan Anne keluar dari negara itu dalam 30 hari setelah diminta presiden Rodrigo Duterte.

Kepala Biro Imigrasi Filipina, Jaime Morente mengatakan pada Rabu, 25 April 2018, perintah itu dikeluarkan setelah Duterte mengeluhkan aktivitas biarawati itu. Bagi Duterte Patricia Anne Fox, ia anggap telah mencampuri urusan politik dalam negeri Filipina.

Morente menurutkan, Fox berusia 71 tahun harus meninggalkan Filipina dalam waktu 30 hari setelah dia ditemukan terlibat dalam kegiatan yang tidak diperbolehkan menurut syarat dan ketentuan visanya.

Pengusiran dilakukan setelah permintaan pembaruan visa misionaris Fox yang akan berakhir pada September 2018, ditolak. Akan tetapi Fox masih bisa kembali ke Filipina yang warganya mayoritas Katolik sebagai turis, bukan sebagai misionaris,ujar pegawai imigrasi lainnya.

Menaggapi perintah deportasinya, Fox yang sudah 27 tahun tinggal di Filipina mengaku terkejut karena baru mengetahui pembatalan visanya melalui media massa.

“Saya sangat sedih harus meninggalkan Filipina. Saya mungkin kehilangan hak saya untuk berada di Filipina tetapi saya tidak pernah bisa kehilangan pelajaran dan kenangan indah.

Patricia Anne Fox, suster kepala ordo biarawati Katolik Roma, Notre Dame de Sion di Filipina, ditahan selama sehari awal pekan lalu setelah Presiden Duterte memerintahkan penyelidikan terhadapnya. Wanita yang disebut Duterte sebagai warga asing yang tidak diinginkan itu dituding terlibat dalam aksi protes menentang pelanggaran HAM di Filipina.

Beberapa foto yang dirilis Istana Malacanag menunjukan Fox berorasi saat demonstrasi di Davao City menentang pelanggaran HAM di Filipina. Aksi tersebut merupakan protes atas kelompok operasi anti-narkoba Presiden Duterte yang telah menelas ratusan korban jiwa.

Sejumlah grup hak asasi manusia mengestimasi lebih dari 12 ribu orang tewas dalam kebijakan perang melawan narkoba sejak Duterte berkuasa pada 2016.

Patricia Fox, 72 tahun, yang telah menghabiskan hampir tiga dekade selama ini telah membuat Presiden Filipina Rodrigo Duterte geram karena terus mengkritik kebijakan perang melawan narkotika. Visa misionaris asal Australia ini telah diturunkan ke level turis pada bulan lalu.

Dilansir dari BBC news Senin (11/5),saat hendak meninggalkan Filipina pada Sabtu (3/11) Fox mengatakan Duterte seharusnya mendengarkan ‘jeritan masyarakat kecil’. Duterte seharusnya “Tidak hanya militer atau pebisnis, tapi tolong dengarkan warga pinggiran, kaum pekerja, masyarakat pribumi,” lanjutnya.

April lalu, Patricia Fox, dia pernah ditahan otoritas Filipina atas tuduhan ‘mengganggu ketenangan publik’. Duterte pernah┬ámengatakan kritik Fox terhadap pemerintah Filipina dapat dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.