Ini Tiga Kunci Sukses Besar Arsjad Rasjid dalam Karirnya Sebagai Pengusaha

President Director and CEO Grup PT Indika Energy Tbk, Arsjad Rasjid

Bogor, Sayangi.com – “Jadikan nilai-nilai spiritual sebagai tangga kesuksesanmu”. Itulah salah satu inti pesan President Director and CEO Grup PT Indika Energy Tbk, Arsjad Rasjid saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan Kebangsaan yang digelar oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan di Wisma DPR, Puncak, Bogor, Minggu 11 November 2018.

Menurut Arsyad, dalam membangun sebuah usaha dan menjadi seorang entrepreneur, tidak lepas dari jiwa kepemimpinan yang harus dimiliki.

“Bicara pengusaha juga berbicara soal leadership bagaimana seorang pengusaha menjadi leader, untuk jadi pengusaha harus jadi pemimpin,” kata Arsjad.

Jika berbicara soal kepemimpinan dalam menjadi seorang entrepreneur, maka hal itu tidak lepas dari tiga filosofi yang selama ini menjadi pegangannya. Ketiga filosofi tersebut tergabung dalam ASA, yakni autentic (keaslian), spritual, dan agility, yaitu kelincahan.

“ASA dalam bahasa Indonesia adalah harapan. Jadi bagaimana kita bisa menjadi pemimpin yang bisa memberikan harapan dengan filosofi ASA,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Arsjad kemudian menuturkan soal napak tilas perjalanannya dan proses hidupnya. Ia lahir dari seorang tentara. Diakuinya, semenjak usia dini, sudah ditanamkan jiwa kemandirian dan nilai-nilai kehidupan dalam dirinya.

“Waktu saya umur sembilan tahun, ayah dan ibu bilang kini kamu sudah dewasa dan sudah waktunya mandiri. Lalu saya dikirim keluar, yakni ke Singapura, termasuk sekolah, dan di sana tinggal sama keluara Arab, biar saya belajar nilai-nilai, termasuk tentang nilai-nilai agama dan kehidupan,” ujarnya.

Ia mengakui, saat di Singapura, ia banyak bertemu dengan orang-orang dari bangsa berbeda, seperti Cina dan India.

Beberapa tahun kemudian, ia hijrah dan melanjutkan studi di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itu, ia bertemu dengan orang-orang dengan kultur yang lebih bervariasa lagi. Di sana, ia bertemu dengan orang Afrika, Amerika, Meksiko, dan seterusnya.

“Ketika ketemu orang-orang yang berbeda itu, kita melihat semua sama, yaitu proses hidup. Ini proses pembelajaran. Setiap orang punya proses hidup. Saya menyebutnya video kehidupan, itu membuat kita semakin mengenal siapa kita,” jelasnya.

Mengutip seorang seorang profesor di Harvard University, ia menjelaskan bahwa kehidupan seperti kompas. Untuk mengetahui siapa kita, maka semua itu diketahui dari proses kehidupan kita dari sejak lahir hingga meninggal.

“Jadi siapa kita dan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan kita. Itu penting untuk kita ketahui.”

Soal ASA, ia menjelaskan lebih dalam. Menurutnya, untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus mempunyai otentic leadership.

“Di situ kita harus bisa menyerap hal-hal yang positif, dan juga menerima hal-hal sulit atau negatif yang terjadi di luar kita. Artinya kita tidak hanya belajar dari kesuksesan orang, tapi kita juga belajar dari kegagalan orang lain, dan ini yang kemudian menjadi patokan proses, yaitu memimpin dengan hati, karena itulah yang kemudian menjadikan kita memimpin dengan keaslian kita,” tegasnya.

Lalu setelah memiliki otentisitas kepemimpinan, perlu dimiliki juga spritual leadership.

“Penting sekali kita memiliki kompas kehidupan, karena ini yang membuat saya untuk kemudian sampai pada spritual leadership. Spritual, kita selalu mendekat dengan Pencipta, yaitu Allah SWT, dan mengikuti ajaran kebajikan yang bisa mengantarkan kita pada nilai-nilai kehidupan,” katanya.

Sedangkan agility kata dia dibutuhkan terutama ketika menghadapi problem dalam bisnis dan perusahaan kita. Ini juga berkaitan dengan strategi dalam mengelola perusahaan.

Setidaknya ada beberapa hal yang penting dalam mengelola perusahaan. Di antaranya adalah integrity, unity in diversity untuk memahami bagaimana mengelola perbedaan, kemudian gotong royong atau teamwork, dan achievement untuk mencapai suatu kemampuan, yaitu bagaimana caranya mendapatkan profit sebesar-besarnya.

“Mengelola perbedaan, bekerjasama, sulit sekali. Maka yang penting bagaimana menyatukan perbedaan. Kemudian juga saya ingat apa yang diungkapkan oleh Darwin, ‘bukan yang paling tua atau paling pandai yang bisa bertahan dalam proses evolusi, tapi yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya’. Pandangan ini membuat kita fleksibel dan memiliki pemikiran terbuka dan juga fokus,” katanya.

Ia mencontohkan saat perusahaan yang ia pimpin mengalami goncangan hebat di tengah jalan, maka mau tidak mau ia berpikir keras mencari solusi terbaik mengatasi goncangan tersebut.

“Waktu kita menghadapi goncangan dalam usaha, harganya turun sampai rendah sekali, sedangkan minyak harganya naik banget. Yang terjadi biaya naik, harga turun, maka solusinya mau tidak mau kita harus mengurangi karyawan, melakukan cost efisiency.”