Dua Pemimpin Khmer Merah Divonis Bersalah atas Genosida di Kamboja

Dua Bersaudara Tokoh Khmer Merah yang masih hidup sedang menjalani pengadilan Internasional. Gambar kiri Khieu Samphan (87 tahun) dan Nuon Chea (92). Foto The Times
Dua Bersaudara Tokoh Khmer Merah yang masih hidup sedang menjalani pengadilan Internasional. Gambar kiri Khieu Samphan (87 tahun) dan Nuon Chea (92). Foto The Times

Phnom Penh,Sayangi.com- Pengadilan Internasional yang didukung PBB menjatuhkan vonis bersalah terhadap dua pelaku rezim Khmer Merah yang masih hidup, atas genosida di Kamboja pada medio tahun 1975 hingga 1979.

Vonis yang diketuk palu pada hari Jumat itu disebut sebagai keputusan bersejarah dalam membuka tabir keadilan di Kamboja.

“Saudara Nomor Dua” Nuon Chea (92) dan Khieu Samphan (87) adalah para pemimpin senior kelompok komunis yang masih hidup. Keduanya menjadi saksi pemerintahan paling brutal yang pernah terjadi di Asia Tenggara.

Dikutip dari Al Jazeera pada Sabtu (17/11/2018), Pengadilan Luar Biasa Kamboja (ECCC) menilai keduanya bertanggung jawab secara pidana atas kematian sekitar 1,7 juta warga Kamboja. Pembunuhan di Kamboja dinilai oleh Konvensi Jenewa sebagai salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar di Abad ke-20.

Hakim ketua Nil Nonn, yang merupakan pertama kalinya Pengadilan Internasional mengeluarkan putusan bahwa Khmer Merah terbukti melakukan genosida terhadap etnis Vietnam dan kelompok muslim Cham. Ratusan massa berjubel  menghadiri sesi persidangan di ibu kota Kamboja, Phnom Penh.

Diantara pengunjung yang hadir nampak anggota minoritas muslim Kamboja,Cham. Sekitar 800 orang, termasuk di antaranya lebih dari 200 muslim Cham, dilaporkan menghadiri sidang pada hari Jumat (16/11/2018), kata juru bicara ECCC, Neth Pheaktra.

Pengadilan hibrida, yang menggunakan campuran hukum Kamboja dan hukum internasional, diciptakan dengan dukungan PBB pada 2006. Pengadilan ini untuk mengadili para pemimpin senior Khmer Merah.

Saat putusan tahun ini hanya tiga orang yang dihukum oleh pengadilan,. Pengadilan ini memakan biaya lebih dari US$ 300 juta, atau sekitar Rp 4,3 triliun.

Mantan Menteri Luar Negeri Khmer Merah Ieng Sary dan istrinya meninggal tanpa menghadapi pengadilan, sementara “Saudara Nomor 1” Pol Pot meninggal pada tahun 1998.

Nuon Chea dan Khieu Samphan keduanya dijerat pasal berlapis sehingga pengadilan membagi persidangan ke dalam serangkaian dengar pendapat yang lebih kecil, pada tahun 2011. Banyak yang percaya keputusan itu akan menjadi yang terakhir untuk pengadilan yang telah dirusak oleh tuduhan campur tangan politik.

Namun Perdana Menteri Hun Sen juga mantan kader Khmer Merah telah berulang kali memperingatkan dia tidak akan membiarkan lebih banyak penyelidikan dilanjutkan. Hun Sen yang berkuasa lebih dari 20 tahun mengkalim pengadilan tersebut merupakan hanya alasan. Sen mengatakan pengadilan tersebut merupakan  ancaman yang samar-samar terhadap stabilitas.

Pengadilan Kamboja telah meluncurkan penyelidikan terhadap empat kader Khmer Merah, meskipun satu orang diberhentikan pada Februari 2017. Hal ini menjadi sorotan lantaran pengadilan kesulitan membawa bawahan anggota rezim brutal itu ke pengadilan.

Sebelumnya, kedua pemimpin Khmer Merah itu sudah menjalani hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah dalam persidangan terhadap kemanusiaan tahun 2011 hingga 2014. Saat itu keduanya dikenai dakwaan pemindahan paksa dan penculikan.

Khmer Merah telah berusaha menciptakan utopia agraria dengan mengosongkan kota-kota untuk membangun komune pedesaan yang luas. Akan tetapi kebijakan radikal mereka mengarah pada apa yang disebut “genosida sistematis”. Tindakan genosida ini menimbulkan bencana kelaparan, kerja paksa serta eksekusi.