Keluarga Korban Lion Air Tuntut Pihak Boeing Berikan Ganti Rugi

Kuasa hukum korban Lion Air, Manuel von Ribbeck, saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (22/11). (Ist)

Jakarta, Sayangi.com – Keluarga korban insiden kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP JT-610 mengajukan gugatan hukum terhadap Perusahaan Boeing yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat.

Gugatan tersebut dilayangkan pada 16 November 2018 yang di dalamnya berisi bahwa keluarga korban meminta ganti rugi ratusan juta dolar dari raksasa penerbangan AS tersebut.

Gugatan tersebut disampaikan pihak kuasa hukum korban Manuel von Ribbeck dari kantor hukum Ribbeck Law Chartered, sebuah firma hukum litigasi global yang memang fokus pada bencana penerbangan di seluruh dunia.

“Tidak ada alasan untuk menunggu laporan akhir dari investigasi, karena bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, laporan akhir tidak akan
menetapkan kewajiban, keputusan siapa yang bersalah dalam kecelakaan ini akan ditentukan oleh hakim atau juri di Amerika,” ungkap Von Ribbeck dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/11).

Von Ribbeck juga menyinggung, bahwa pihaknya telah memiliki sejumlah catatan dari keluarga korban yang menuding bahwa pesawat Boeing MAX 8 dan Manual Penerbangan Pesawatnya sama sekali tidak aman, bahkan berbahaya untuk tetap digunakan.

“Lion Air hanyalah salah satu dari beberapa maskapai yang telah membeli Boeing MAX 8 yang relatif baru,” terangnya.

Terkait hal ini, Deon Botha yang juga dari Ribbeck Law Chartered menyatakan, bahwa sebelumnya, pada tanggal 7 November 2018, Federal Aviation Administration (FAA) telah mengeluarkan Pedoman Kelayakan Darurat baru pada Boeing 737 MAX. Pedoman tersebut merupakan instruksi terkait penanganan kerja mesin pesawat saat berada dalam kondisi tidak aman.

“Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang baru itu dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat,” katanya.

Adapun isi laporan tersebut, Deon menyebutkan, yakni fokus pada sistem kontrol penerbangan otomatis baru pada Boeing 737 MAX. Dimana, menurut Deon, sistem kontrol penerbangan baru tersebut memiliki kemampuan yang bisa memperbaiki situasi ketika hidung pesawat mengarah ke atas hingga menyentuh level berbahaya yang mampu mengakibatkan terjadinya gagal mesin.

“Namun, sistem kontrol tersebut justru tak berfungsi dengan baik, sehingga awak pesawat lepas kendali,” ungkapnya.

Sehingga, lanjut Deon, pihaknya menilai bahwa kecelakaan bisa saja terhindar, jika sebelumnya awak pesawat benar-benar diinstruksikan dan dilatih untuk menghadapi situasi seperti itu dengan mengubah sistem secara manual untuk menghindari kecelakaan.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air dengan type B737 8 Max dengan Nomor Penerbangan JT 610 terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Banten, menuju Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang.

Namun, usai lepas landas dari Bandara Soetta, pesawat tersebut malah terjatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018 sekitar pukul 06.33 WIB. Pesawat tersebut mengangkut 182 orang penumpang dan 7 awak penerbang, dimana seluruh penumpang dan awak pesawat dikabarkan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.