Agar Tragedi Penembakan di Sampang Tak Terulang, Pengguna Medsos Diminta Junjung Etika

Ilustrasi media sosial/ Foto: Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Kasus tewasnya Subaidi (40) yang ditembak oleh Idris (30) di Sampang, Madura pada (21/11) lalu, memberikan bukti nyata bahwa diperlukan adanya etika dalam berperilaku di media sosial (medsos).

Begitu disampaikan  Direktur IT dan Sosial Media, Relawan Millenial Jokowi-Ma’ruf Amin (REMAJA), Ainor Rosid, dalam keterangannya, Rabu (28/11).

Ibarat mata uang, kata Ainor Rosid, medsos memiliki dua sisi. Ada dampak positif dan ada juga dampak negatif.  Harapan banyak pihak tentu dampak positif dari media sosial itu sendiri,  seperti membantu dalam meningkatkan pendapatan ekonomi, karena mudahnya akses untuk melakukan promosi dan bertransaksi.

“Namun, banyak juga sisi negatif yang diakibatkan oleh pengguna media sosial yang tidak memahami aturan dan etika dalam berperilaku di media sosial,” kata  Ainor Rosid.

Ujaran kebencian,  hoaks, menyinggung SARA, menurutnya masih marak dilakukan oleh berbagai oknum atau individu yang tidak memahami bahwa berperilaku di media sosial seharusnya tetap berpegang teguh terhadap etika kemanusiaan, yaitu tidak menyinggung apalagi membuat marah pihak lain dan menyebabkan konflik.

“Apalagi menjelang pilpres 2019, media sosial menjadi alat efektif untuk melancarkan black campaign melalui ujaran kebencian, fitnah,  hoaks dan lain sebagainya,” tambahnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau,  pengguna medsos harus cerdas,  bisa menahan diri untuk tetap bisa menjunjung etika, sehingga mampu memfilter kalimat atau ujaran seperti apa yang akan membuat marah, menyinggung dan memprovokasi pihak lain.

Melalui perilaku yang beretika di medsos diharapkan, pertama,  akan tetap tercipta stabilitas sosial (social order)  menjelang pilpres 2019 yang akan membawa terhadap proses demokratisasi yang maksimal tanpa black campaign.

“Dan kedua, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti konflik sosial dan pembunuhan. Kasus sampang salah satu bukti dampak provokasi yang dilakukan melalui media sosial,” demikian Ainor Rosid.

Diketahui, seorang Anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) di Sampang, Madura, Jawa Timur, Subaidi (40) tewas ditembak oleh Idris (30).

Penembakan terjadi pada Rabu (21/11) pukul 13.00 WIB.  Kejadian tersebut bersumber dari status di media sosial soal calon presiden.