Trump Tak Berkenan Bertemu Putin Di KTT G20

Presiden AS Donald Trump dan Vladimir Putin (kanan) Presiden Rusia. Foto The New York Revew Book
Presiden AS Donald Trump dan Vladimir Putin (kanan) Presiden Rusia. Foto The New York Revew Book

Washington,Sayangi.com- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tahun 2014 pernah mengejek mantan presiden Barack Obama saat menghadapi agresi Rusia di Ukraina. Akan tetapi empat tahun kemudian, Trump menghadapi dilema yang persis sama.

Sebelumnya telah direncanakan Trump kemungkinan tatap muka dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam acara KTT G20 di Argentina pekan ini. Akan tetapi beberapa hari sebelum acara tersebut diselenggarakan, Moskow meningkatkan suhu ketegangan dengan Ukraina.

Trump dikabarkan menunggu lebih dari 24 jam setelah insiden kapal Ukraina dan kapal Rusia pada Ahad (25/11), sebelum akhirnya berkomentar mengenai insiden itu. Di hadapan awak media Trump mengungkapkan ketidak senangan atas peristiwa tersebut dan menurutnya kesalahan mungkin ada di kedua sisi.

Dalam wawancara dengan The Washington Post pada Selasa (27/11), Trump mengatakan ia mungkin bakal membatalkan pertemuan dengan Putin. Namun semua itu tergantung pada hasil laporan lengkap tentang bentrokan tersebut.

Dikutip dari CNN Kamis (29/11) Trump menyatakan “Laporan Itu akan sangat menentukan. Mungkin saya tidak akan mengadakan pertemuan. Mungkin saya bahkan tidak akan mengadakan pertemuan. Saya tidak suka agresi itu. Saya sama sekali tidak menginginkan agresi itu.

Terkait ucapan Trump, pengamat Rusia dan bahkan televisi Pemerintah Rusia telah menarik pesan lain dari pernyataan Trump. Media Rusia menyebut Trump telah menunjukkan kelemahan. Dan hal itu akan semakin memudahkan pertemuan mereka di Argentina serta membesarkan hati Putin di panggung global.

Alina Polyakova, pengamat Rusia di Brookings Institution menuturkan “Sikap diam Presiden (Trump) menjelang pertemuan dengan Putin salah arah. Apa yang Trump lakukan sekarang dengan tetap diam adalah bukti bahwa dia sebenarnya presiden yang lemah. Dilihat dari perspektif Rusia, adalah tak ada hal baik yang dapat mereka harapkan,ujarnya.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton, mengatakan pada Selasa (27/11) bahwa jika kedua pemimpin itu bertemu, Trump dan Putin akan membahas masalah keamanan, pengawasan senjata, dan masalah regional lainnya.

Saya pikir ini akan menjadi kelanjutan dari diskusi mereka yang pernah dilakukan di Helsinki, Finlandia, pada Juli lalu,” kata Bolton.

Saat awak media menanyakan apakah ketegangan dengan Ukraina akan dibahas oleh keduanya?. Bolton menjawab dan menegaskan Gedung Putih telah mendukung pernyataan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, di Dewan Keamanan PBB.

Sehari setelah bentrokan kapal Rusia dan Ukraina, Haley mengatakan aksi Rusia terhadap kapal Ukraina telah melanggar hukum dan menimbulkan eskalasi yang tinggi.

Namun seorang pejabat senior Pemerintah AS mengatakan kepada CNN, Presiden Trump tidak ingin mengatakan apa-apa tentang Ukraina sebelum bertemu dengan Putin. Hal itu lantaran Trump  ingin membatalkan pertemuannya dengan pemimpin Rusia itu.

Menurut mantan duta besar AS untuk Ukraina, Stevel Pifer, sikap diam Trump dapat menempatkan Trump pada posisi yang kurang menguntungkan dalam pertemuannya dengan Putin. “Rusia,tidak saja yang pertama menguji Ukraina, tetapi mereka juga menguji tanggapan barat,” kata Pifer.

“Respons lemah Trump kemarin akan menentukan bagaimana Putin datang ke pertemuan itu. Putin akan melangkah dengan percaya diri bahwa dia bisa memanipulasi dan memainkan Presiden (Trump),” ungkap Pifer.

Masih belum jelas apa yang dibahas Putin dan Trump dalam pertemuan pribadi mereka di Helsinki. Namun rasa hormat Trump kepada Putin dan penolakannya untuk mengkritik Putin tidak menunjukkan bahwa dia ada dalam posisi yang kuat.