Hari AIDS Sedunia : Berani Menghadapi AIDS

Foto IStimewa
Foto IStimewa

Jakarta,Sayangi.com- Tanggal 1 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Peringatan HAS berlangsung di Indonesia dimulai sejak 1988.Hari ini, 1 Desember 2018 Peringatan Hari Aids Sedunia ke 30.

Tahun 2018 ini peringatan hari AIDS di Indonesia mengambil tema: Saya berani, saya sehat. Keberanian menghadapi AIDS diperlukan demi tercapainya target global eliminasi AIDS pada 2030. Kementerian Kesehatan menyatakan, Hari AIDS Sedunia menjadi penting karena tingginya kasus HIV-AIDS di Indonesia. Ironisnya angka penderita AIDS Indonesia tertinggi di Asia Tenggara.

Untuk itu dalam rangka mengatasi hal tersebut diperlukan keberanian menghadapi AIDS dalam bentuk langkah nyata untuk mengupayakan. Langkah tersebut biasa disebut 3 Zero yaitu, (1) tidak ada penularan baru, (2) tidak ada kematian akibat AIDS, dan (3) tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap pengindap HIV/AIDS.Untuk mengurangi daftar jumlah penderita AIDS diperlukan 3 hal diantaranya  :

1.Berani Berkata Tidak
Dilaporkan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan penyakit hilangnya kekebalan tubuh sehingga penderita menjadi mudah terkena penyakit infeksi.

AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penularannya yang utama virus ini melalui hubungan seks bebas yang tidak aman dengan mitra yang berganti-ganti. HIV juga banyak terjadi pada penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkoba.

Pencegahan merupakan upaya terbaik mengatasi penyakit, demikian pula terhadap AIDS. Pencegahan AIDS adalah dengan berani berkata TIDAK terhadap hubungan seks yang tidak aman. Selain itu juga berani berkata TIDAK terhadap penggunaan narkoba.

Pencegahan harus mencakup dari taraf kesehatan hingga pada pendidikan kesehatan. Dilevel pendidikan perlu disampaikan pemahaman mengenai HIV – AIDS. Himbaun pelatihan untuk berani menyatakan TIDAK terhadap perilaku yang berisiko penularan HIV.

Penularan lainnya adalah dari ibu pengindap HIV kepada janin yang dikandungnya, namun seiring kemajuan teknologi pengobatan ARV (Anti Retro Viral) penularanan tersebut dapat dicegah. Sedangkan pada pelaksanaan pelayanan kesehatan, penularan HIV dicegah dengan pelaksanaan pengendalian infeksi seperti sterilisasi, penggunaan alat pelindung, dan sebaginya.

2.Berani Memeriksakan Diri
Seringkali pengindap HIV tidak menyadari. Penyakit AIDS memiliki masa inkubasi antara mencapai 5 – 10 tahun. Dalam rangka menghadapi penyebaran AIDS perlu keberanian memeriksakan diri, terutama bagi mereka yang berisiko. Dengan melakukan tes HIV apabila ternyata dalam tubuh seseorang telah terinfeksi HIV, dapat sedini mungkin dilakukan pengobatan dan konseling.

3.Berani Hidup Dengan ODHA
Seseorang yang mengindap HIV atau sudah menderita AIDS disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Di masa lalu, penyakit AIDS berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Namun kini sudah terdapat obat ARV yang dapat menyebabkan penurunan kadar HIV hingga tidak terdeteksi.

Akan tetapi obat ARV belum dapat menghilangkan sama sekali virus HIV dalam tubuh ODHA, hingga obat tersebut harus terus menerus digunakan. Dengan adanya obat ARV maka AIDS bukan lagi merupakan penyakit yang mematikan, namun saat ini AIDS merupakan penyakit yang dapat dikendalikan, seperti halnya pada diabetes, hipertensi, dan lainnya.

Namun permasalahan yang kerap dijumpai adalah stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Terdapat pandangan keliru bahwa ODHA merupakan para pendosa yang dikutuk Allah. Stigma dan dikriminasi lain yang keliru adalah ODHA merupakan penyakit yang berbahaya bagi lingkungannya.

Patut disadari bahwa cukup banyak orang yang tidak bersalah  menderita AIDS, seperti istri yang ditularkan dari suaminya, atau bayi yang ditularkan dari ibunya. Dengan upaya pencegahan seperti tindakan pengendalian infeksi yang relatif tidak terlalu sulit, maka ODHA bukan individu yang berbahaya bagi orang sekitarnya. Dengan demikian atas dasar kemanusian perlu keberanian hidup dengan ODHA dalam menghadapi AIDS.

Penulis : Dr Paulus Januar, drg,MS
Staf Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama)