Kasatgas Nusantara Polri Ajak Mahasiswa Jadi Pendingin di Tengah Suasana Panas Tahun Politik

Kepala Satgas Nusantara Polri, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono saat memberi kuliah umum bertajuk 'Peranan Mahasiswa Memanfaatkan Media Sosial Untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa' di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Selasa (11/12). (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Kepala Satgas Nusantara Polri, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, demokrasi memiliki sisi yang positif seperti adanya check and balance, adanya partisipasi masyarakat yang kuat dalam mengontrol pemerintahan serta adanya tuntutan terhadap supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Namun di sisi lain, ketika masyarakat kita didominasi oleh masyarakat yang low class, mereka menganggap demokrasi adalah bebas sebebas-bebasnya.

“Persoalannya di negara kita, kalau kita melihat, masyarakat kita didominasi oleh masyarakat yang low class. Salah satu ciri masyarakat low class adalah mereka berpikir secara emosional dan ingin cepat-cepat melakukan perubahan,” kata Gatot saat mengisi Kuliah Umum bertajuk ‘Peranan Mahasiswa Memanfaatkan Media Sosial Untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa’ di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Selasa (11/12).

Gatot mengungkapkan, dalam masyarakat Indonesia yang beragam, yang serba multi, baik dari agama, suku, dan adatnya, ada saja yang berusaha mengangkat perbedaan-perbedaan, dan memaksakan kehendaknya.

Menurutnya, hal inilah yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita. Kemudian isu primordial diangkat dan menguat, ini juga menjadi persoalan.

“Tapi tentunya kita harus optimis, dalam masyarakat kita yang didominasi oleh low class, dimana kita sedang berada pada transisi demokrasi, syukur alhamdulillah 20 tahun menjadi demokrasi riak-riak nya ada tetapi masih bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Dijelaskan Gatot, salah satu implementasi demokrasi adalah pemilu. Dalam pelaksanaan pemilu tersebut, ada tahapan-tahapannya. Dalam tahapan tersebut itulah terjadi potensi kerawanan yang apabila tidak diantisipasi, bisa menjadi gangguan keamanan.

Menurutnya, beberapa kerawanan pemilu adalah black campaign, money politic dan lain sebagainya. Menurutmya, demokrasi yang kita laksanakan saat ini rawan dimanipulasi oleh oknum tertentu untuk kepentingan mereka. Dan hal ini tidak disadari masyarakat didominasi oleh yang low class.

“Sehingga tanpa disadari demokrasi yang harusnya dimiliki oleh masyarakat, dimanipulasi oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan mereka,” terangnya.

Penggunaan-penggunaan black campaign inilah yang biasanya dilakukan melalui media sosial. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan elektabilitas lawan politik.

Black campaign itu adalah bagaimana dia mengeksploitasi peristiwa yang tidak ada, dibuat sedemikian rupa, dikapitalisasi di medsos, di media konvensional tujuannya adalah menjatuhkan elektabilitas. Yang berbahaya black campaign ini memakai hoaks, ujaran kebencian, isu sara, dan lain sebagainya,” paparnya.

Dia menilai, black campaign itu paling subur terjadi di media sosial. Pasalnya, media sosial tidak memiliki saringan seperti media konvensional atau media mainstream yang memiliki redaksi dan editor. Media sosial dikendalikan langsung oleh seseorang dan tidak ada proses edit.

Kepala Satgas Nusantara Polri, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono bersama Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi, Rektor Universitas Trilogi Marsudi Wahyu Kisworo dan civitas akamika Universitas Trilogi.

Yang jadi masalah lagi, kata Gatot, masyarakat Indonesia sangat rendah literasinya. Dari 10.000 orang yang diteliti tentang daya literasi, hanya 10 orang yang membaca buku sampai habis.

“Jadi ketika ada berita, apakah itu benar atau hoaks, masyarakat kita banyak yang ga baca seutuhnya,” tambahnya.

Di satu sisi, media sosial bisa memberi kemudahan, tapi di sisi lain bisa menjadi ancaman yang perlu diantisipasi swperti penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, fitnah dan sebagainya.

“Ketika terjadi kontestasi politik ini, masyarakat akan terbelah, ada yang mendukumg si A dan si B. Ada yang menyebar hoaks atau fake news melalui media sosial,” terangnya.

Selain itu, kalau dulu, orang menyebar faham radikal, dia menyampaikannya dengan khotbah, pamflet dan lain sebagainya. Tapi sekarang cukup lewat medsos, bikin grup, lalu bisa disebar faham radikal itu.

Karenanya Gatot mengajak kepada mahasiswa agar bijak menggunakan media sosial

“Sebelum sharing, kita saring dulu, tabayyun dulu, berita itu benar atau tidak. Kalau berita itu tidak benar, jangan dishare, kalau berita itu benar, apakah itu bermanfaat atau tidak. Kalaupun benar tapi tidak bermanfaat gak usah dishare, tapi kalau benar dan bermanfaat secara umum ayo kita share,” ajaknya.

Selain itu, Gatot juga mengajak mahasiswa untuk menjadi cooler system, sebagai pendingin. Karena dalam tahun politik ini, banyak orang baik di dunia nyata maupun di media sosial yang membuat panas kondisi.

“Mari kita berikan pendinginan, jangan kita ikut kompor-kompori dengan menambah berita hoaks dan ujaran kebencian, tapi kita buat narasi yang positif. Minimal kita tidak ikut menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian, tapi kalau bisa Alhamdulillah kita bisa membuat kontra narasi memberikan pemahaman yang benar,” demikian Gatot.