Nadia Murad, Peraih Nobel Korban Pelecehan ISIS,Mudik ke Irak

Nadia Murad korban Pelecehan Seksual ISIS, Foto Business Standard
Nadia Murad korban Pelecehan Seksual ISIS, Foto Business Standard

Oslo,Sayangi.com- Ndia Murad Peraih hadiah Nobel bidang perdamaian 2018 bertemu dengan Presiden Irak Barham Salih di Baghdad. Murad terlahir dari suku minoritas Yazidi meraih hadiah Nobel atas kerja kerasnya mengadvokasi perempuan korban kekerasan selama perang.

Murad merupakan satu dari ribuan perempuan Yazidi yang diculik dan dijadikan budak seks oleh ISIS pada tahun 2014 lalu. Setelah berhasil melarikan diri dan menjadi pengungsi di Jerman ia menjadi aktivis perempuan.

Ia tiba di Baghdad setelah menghadiri perayaan hadiah Nobel 2018 di Stockholm, Swedia. Murad diterima langsung oleh Barham Salih. “Tidak ada artinya hadiah Nobel tanpa terus bekerja demi perdamaian,” kata Murad kepada para pemimpin dan duta besar di Kantor Kepresidenan Irak, Rabu (12/12).

Murad menganut agama suku minoritas Yazidi, ia mengikuti kepercayaan leluhurnya. Kelompok ISIS menyebut mereka sebagai penyembah setan. Ketika ISIS menyapu sebelah utara Irak pada 2014 mereka membunuh ratusan laki-laki Yazidi. Tak cukup membunuh,ISIS juga menculik serta memperbudak sekitar tujuh ribu perempuan Yazidi.

Banyak yang berhasil kabur setelah pasukan Irak yang didukung Amerika Serikat berhasil mengusir ISIS dalam perang selama tiga tahun yang melelahkan. Akan tetapi diperkirakan masih ada tiga ribu perempuan Yazidi yang dinyatakan tak tahu rimbanya.

Murad meminta pemerintah Irak dan koalisi yang dipimpin AS untuk mencari para perempuan yang masih hilang. Ia juga meminta pemerintah Irak untuk membangun kembali kampung halamannya, Sinjar.Dilaporkan lebih dari 80 persen suku Yazidi masih dihidup di kamp pengungsian.

Dalam pidato hadiah Nobelnya pada hari Senin (10/12) lalu ia menghimbau agar para pemimpin dunia untuk berusaha mengakhiri kekerasan seksual. Murad menegaskan “Hadiah di dunia yang dapat memulihkan martabat kami hanya keadilan dan tuntutan kepada pelaku.

Presiden Irak Barham Salih mengatakan Murad menjadi perwujudan dari penderitaan dan tragedi yang dialami rakyat Irak pada masa lalu. “Dan mewakili keberanian dan tekad membela hak asasi menghadapi penindas,” ujar Salih.

Presiden Irak Salih mengatakan suku minoritas Yazidi mengalami kejahatan yang mengerikan dalam sejarah. Ia meminta parlemen untuk segera meloloskan undang-undang yang mengakui penderitaan Yazidi sebagai genosida.

Saat Murad menerima hadiah Nobel di Oslo, Irak merayakan satu tahun kemenangan dari ISIS. Walau begitu masih ada beberapa serangan sporadis dan ISIS juga masih menguasai beberapa kantong kecil diperbatasan Suriah.

Perang Irak melawan ISIS mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Perang Irak dan ISIS telah menghancurkan seluruh pemukiman dan kota-kota. Tercacata sebanyak 1,8 juta orang mengungsi dari rumah mereka.