Presiden Jerman Nyatakan Berkompromi Bukan Berarti Lemah

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeie. Foto DW
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeie. Foto DW

Berlin,Sayangi.com- Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mendesak rakyat Jerman untuk meredakan ketegangan dalam masyarakat dengan menjalin kontak satu sama lain. Berdiskusi dan berkompromi adalah kunci dari demokrasi.

Perbedaan pendapat di ranah sosial dan politik di Jerman menjadi lebih tajam dan lebih intens pada tahun 2018. Banyak wacana tentang perpecahan sosial serta tentang keterasingan antara politisi dan masyarakat biasa. Banyak yang mengungkapkan kemarahan, terutama di media sosial, di mana seringkali tidak ada minat nyata dalam perdebatan atau pertukaran pandangan yang tulus.

Dalam pidato Hari Natal-nya, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier merujuk pada semakin kerasnya wacana ini. “Di mana pun Anda melihat, terutama di media sosial, ada kebencian dan kemarahan setiap hari. Iapun menuturkan”Saya merasa, kita semakin jarang menghabiskan waktu untuk berbicara satu sama lain dan saling mendengarkan.” Steinmeier mendesak masyarakat untuk terus berdiskusi, bahkan ketika orang lain memiliki pandangan yang berbeda dan mengarah pada argumen karena itulah bagian dari demokrasi.

“Demokrasi kita kuat!” kata Presiden Jerman itu. “Prinsip dasarnya adalah bahwa kita menyuarakan pendapat kita dan bersedia berdebat. Berkompromi bukan berarti lemah, tetapi lebih merupakan tanda kekuatan. Kemampuan untuk berkompromi adalah tulang punggung demokrasi.”

Dikutip dari DW news (25/12) Pidato Natal 2018 merupakan pidato kedua Steinmeier sebagai presiden kepada rakyat Jerman. Berbeda dengan tahun lalu, Steinmeier menyebut negara lain dalam pidatonya. “Apa yang terjadi ketika masyarakat terpisah dan ketika satu pihak hampir tidak dapat berbicara dengan yang lain, buktinya sangat jelas di sekitar kita,” katanya.

Presiden Jerman memberi contoh “barikade yang terbakar di Paris, perpecahan politik yang mendalam di Amerika Serikat dan kecemasan di Inggris terkait Brexit,” sekaligus menegaskan bahwa Jerman yang terletak di jantung Eropa, tentu juga tidak kebal terhadap perkembangan ini. Ia memperingatkan dan menyerukan masyarakat untuk berdialog serta berargumen namun tetap bersatu.

Di Jerman juga ada ketidakpastian, ada ketakutan dan ada kemarahan”, ujar Steinmeier mengimini. Dan inilah tepatnya mengapa dia percaya percakapan yang akan dilakukan orang-orang selama beberapa hari mendatang, misalnya saat makan malam bersama pada hari Natal dengan kerabat dan teman-teman, menjadi sangat penting.

“Saya percaya itu baik bagi kita untuk terlibat dalam debat; amat baik bagi kita untuk saling berdiskusi. Jika saya punya satu keinginan untuk negara kita, maka itu adalah: Mari kita berdebat lagi!”

Steinmeier mnuturkan Semakin banyak orang, “bergaul hanya dengan sesamanya. Ini seperti hidup dalam gelembung buatan sendiri di mana setiap orang selalu setuju seratus persen. Keadaan ini termasuk tentang siapa yang tidak menjadi bagian dari negara ini.” Dia menentang pengecualian seperti itu. Steinmeier menegaskan “satu hal akan selalu benar: “Bahwa kita semua adalah bagian dari negara ini, terlepas dari asal usul kita, warna kulit, gaya hidup atau tim olahraga favorit,tegasnya.