Selama 2018, Delapan Anggota Polri Gugur Menjadi Korban Aksi Terorisme

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat menyampaikan Konferensi Pers Akhir Tahun Kepolisian RI di Mabes Polri, Kamis (27/12). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Serentetan aksi teror terjadi di Indonesia pada tahun 2018. Yang masih paling melekat dalam ingatan adalah serangan bom bunuh diri di Gereja dan Mapolres Surabaya, serta serangan dari napi teroris di Mako Brimob.

Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian mengatakan, ada lonjakan jumlah aksi teror pada tahun 2018. Pada tahun 2017 lalu, 12 kasus terorisme terjadi di Indonesia dan meningkat menjadi 17 kasus pada tahun ini.

“Sepanjang tahun 2018 jumlah aksi teror meningkat 42 persen dibandingkan tahun 2017,” ujar Kapolri dalam Rilis Akhir Tahun Polri 2018 di Mabes Polri, Kamis (27/12).

Tahun ini, kata Tito, Polri harus merelakan delapan putra terbaiknya karena menjadi korban aksi teror. Sementara anggota Polri yang terluka dalam aksi teror berjumlah 23 orang.

“Jumlah personel Polri yang menjadi korban teror juga meningkat 72 persen. Pada tahun 2017, ada empat personel Polri gugur (karena aksi teror) dan 14 orang terluka,” jelasnya.

Mantan Kepala BNPT ini juga menyatakan, ada lonjakan signifikan terkait pelaku terorisme yang berhasil diringkus Polri pada tahun 2018. Pada tahun 2017 pelaku teror yang ditangkap sebanyak 176 orang, sedangkan tahun ini ada 396 pelaku teror yang ditangkap.

“Jumlah pelaku teror yang berhasil diungkap sepanjang tahun 2018 meningkat 113 persen,” tegasnya.

Dari 396 pelaku, sambung Tito, sebanyak 141 orang telah disusang dan 204 orang masih dalam tahap penyidikan. Sementara 12 pelaku terorisme sudah menjalani vonis hukuman.

“Selain itu, ada enam pelaku yang meninggal dunia dalam proses penegakan hukum, tiga pelaku tewas bunuh diri dan satu pelaku meninggal dunia karena sakit,” paparnya.