Pakistan Cekal Mantan Presiden Zardari dan Putranya ke Luar Negeri

Bilawal Bhutto Zardari (gambar kiri) penerus dinasti Benasir Bhutto. Foto AP
Bilawal Bhutto Zardari (gambar kiri) penerus dinasti Benasir Bhutto. Foto AP

Islamabad,Sayangi.com- Pakistan, mulai Jumat (28/12) memberlakukan larangan bepergian ke luar negeri terhadap mantan presiden Asif Ali Zardari. Selain itu putra sekaligus penerus dinasti politiknya, Bilawal Bhutto, serta sejumlah orang lainnya bakal dikenai dakwaan pencucian uang besar-besaran.

Zardari, yang menolak tuduhan-tuduhan yang disebutnya bermotif politik itu, telah menjabat presiden dari tahun 2008 hingga 2013. Saat ini ia bersama-sama dengan putranya memimpin oposisi, Partai Rakyat Pakistan (PPP). Partai pimpinan Zardari berkuasa di provinsi Sindh, Pakistan Selatan.

Pembatasan perjalanan itu berlaku sehari setelah Pakistan memperingati 11 tahun terbunuhnya Benazir Bhutto yang pernah dua kali menjabat perdana menteri, dibunuh.

Daftar 172 orang yang dilarang meninggalkan Pakistan itu mencakup nama-nama saudari Zardari, Faryal Talpur. Tak ketinggalan Menteri Utama Sindh Murad Ali Shah dan para politisi, pegawai pemerintah, anggota parlemen dan bankir terkemuka lainnya, serta para pengusaha terkenal.

Dilansir dari VOA Sabtu (29/12) nama Malik Riaz Hussian, milyuner yang menjadi pemimpin perusahaan pembangunan kota, juga ikut dicekal. Malik Riaz Hussian dikenal sebagai Bahria Town, juga masuk daftar yang secara resmi disebut Exit Control List (ECL), atau Daftar Pengawasan Keluar Negeri itu.

Pemerintah Pakistan pimpinan Perdana Menteri Imran Khan menyatakan investigasi antikorupsi elite yang baru saja berakhir. Investigasi tersebut telah mendapat bukti dokumen yang kuat” mengenai bagaimana Zardari dituduh meraup ratusan juta dolar uang negara melalui rekening bank dan perusahaan-perusahaan hoak.

Tim Investigasi Gabungan (JIT), yang dibentuk berdasarkan perintah pengadilan pada September lalu. JIT menyatakan bahwa ratusan juta dolar telah melalui jaringan rekening palsu yang dibuat di beberapa bank utama Pakistan. Rekening tersebut telah menggunakan nama orang-orang miskin tanpa sepengetahuan mereka.

Sebagai contoh Seorang penjaja es krim, yang tinggal di daerah kumuh di Karachi, terkejut ketika dipanggil penyidik. Penjaja es krim tersebut baru mengetahui dari penyidik pada Oktober lalu bahwa ia adalah pemilik rekening bank di ibukota Sindh selama lebih dari setahun dengan simpanan 2,3 miliar rupee atau 1,7 juta dolar di dalamnya.
Diduga Rekening tersebut adalah salah satu yang terkait dengan jaringan yang diduga dipimpin Zardari untuk mencuci uang haram dari Pakistan.

Zardari telah lama menjadi sasaran tuduhan korupsi dan ia dikenal sebagai “Mr. Ten Percent” sewaktu istrinya berkuasa di Pakistan. Istrinya Bhutto tewas dalam serangan bom dan penembakan dalam suatu kegiatan kampanye pemilu di kota Rawalpindi pada 27 Desember 2007.