Di Uhamka, Wakasatgas Nusantara Ajak Mahasiswa Jaga Keberagaman dalam Bingkai Persatuan

Wakasatgas Nusantara Polri Brigjen Pol Fadil Imran saat memberi kuliah umum di Uhamka. jakarta, Kamis (3/1). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uhamka bekerjasama dengan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), mengadakan kuliah umum dengan tema “Memperteguh Semangat Kebangsaan Mahasiswa Dalam Menjaga Kedamaian dan Kesejukan Kontestasi Pilpres 2019”.

Acara ini dihelat di Aula Ahmad Dahlan, Kampus 2 Uhamka, Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (3/1). Hadir sebagai pengisi kuliah umum Wakasatgas Nusantara Polri Brigjen Pol Fadil Imran, yang mewakili Kasatgas Nusantara Polri Irjen Pol Gatot Eddy Pramono.

Dalam kuliah umum yang dihadiri sekira 600 mahasiswa ini, Fadil menjelaskan, bahwa Indonesia merupakan negara yang besar. Serta memiliki modal untuk menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi nomor empat di dunia.

Namun untuk menjadi negara maju, ada beberapa syarat yang harus dimiliki Indonesia, diantaranya stabilitas ekonomi dan keamanan. Tentu ini bukan hal mudah, mengingat masyarakat Indonesia yang heterogen dan terdiri dari berbagai etnis serta agama.

“Demografi bangsa kita masih didominasi low class, ini membutuhkan usaha untuk meningkatkan jumlah kelas menengah. Dengan meningkatnya kelas menengah, baru kita bisa kelola perbedaan ini. Salah satu kelas menengah ini ya ada pada segmen mahasiswa,” ujar Fadil.

Wakasatgas Nusantara Polri Brigjen Pol Fadil Imran meerima Cinderamata dari BEM Uhamka usai memberi Kuliah Umum, Kamis (3/1). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Menurut Fadil, mahasiswa merupakan aset bangsa yang harus diberi porsi untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, Satgas Nusantara Polri aktif berinteraksi dengan para mahasiswa.

“Untuk menjaga keberagaman dalam bingkai persatuan, mahasiswa menjadi salah satu pilar utama,” tegasnya.

Direktur Tipiter Mabes Polri ini mengajak mahasiswa untuk mengawal Pilpres dan Pileg 2019 agar berjalan aman, damai dan sejuk. Hal ini demi mewujudkan cita-cita nasional untuk menjadi negara terbesar nomor empat di dunia.

“Namun ada potensi kerawanan Kamtibmas yang dapat mengganggu stabilitas keamanan. Lalu ada masalah narkoba, masalah terorisme dan radikalisme dan kejahatan konvensional. Selain itu yang paling cyber crime juga berbahaya, karena dia borderless, anonimitas yang sangat tinggi dan multi chanel,” paparnya.

Lebih jauh Fadil mengakui, bahwa Pemilu Indonesia tahun 2019 merupakan Pemilu yang sangat besar. Pasalnya, ada lima pemilihan dalam satu waktu yang bersamaan.

Oleh karena itu, Fadil mengajak mahasiswa menjadi garda terdepan dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Mahasiswa juga diajak berperan aktif dalam menjaga stabilitas dalam negeri yang damai dan sejuk.

“Mahasiswa harus bisa menjadi cooling system, kita harus jadi radiator dan jangan jadi kompor. Ciptakan suasana Pemilu yang sejuk dengan memerangi hoaks dan hatespeech,” katanya.

Mahasiswa, lanjut Fadil, juga harus dapat menjadi agen perubahan yang kritis dan solutif. Mahasiswa harus bisa menjadi alat pemersatu bangsa dalam keberagaman.

“Yang terakhir, mahasiswa juga diharap dapat memberikan informasi kepada Polri jika terjadi sesuatu yang dapat menjadi ancaman persatuan,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua BEM Uhamka Arief Rahman Hakim, menurutnya, perbedaan pandangan Pemilu dapat saja menggoyahkan persatuan bangsa. Oleh karena itu, mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam kemajuan bangsa.

“Agar Indonesia dapat menjadi negara yang semakin diperhitungkan di kancah internasional,” katanya.

Sementara itu, Sekjen PGK Ryan Hidayat menuturkan, bahwa stigma generasi milenial sebagai generasi yang labil harus dihapuskan. Caranya, jangan mudah terpancing isu dan harus menelaah segala informasi sebelum memercayainya.

“Kita tidak boleh terombang ambing oleh hoaks. Kita juga harus mengawal demokrasi, karena jika demokrasi yang tidak seimbang maka yang muncul hanya otoriterarian,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Bunyamin mengaku mengapresiasi apa yang dilakukan Satgas Nusantara Polri. Menurutnya perbedaan pilihan itu wajar dan jangan dijadikan alasan untuk memecahbelah persatuan bangsa.

“Jangan sampai ada masalah karena hanya perbedaan pilihan dan pandangan. Jangan sampai kita jadi bagian dari hoaks dan ujaran kebencian,” tegas Bunyamin.