Sah, Sidratahta Mukhtar Jadi Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ke-116

Sidratahta memaparkan disertasi dalam sidang promosi doktoral di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok, Kamis (10/1).

Jakarta, Sayangi.com – Dosen Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI) Sidratahta Mukhtar memaparkan disertasinya yang berjudul “Kebijakan Anti Terorisme di Era Demokratisasi: Studi Proses Politik Dalam Perumusan UU No.15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Terorisme di Indonesia”. Pemaparan disertasi ini dalam rangka promosinya menjadi Doktor Ilmu Politik.

Acara sidang promosi doktoral ini dilangsungkan di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok, Kamis (10/1). Dalam disertasinya, Sidratahta menjelaskan, bahwa puncak serangan teroris di Indonesia terjadi pada tahun 2002 silam, saat bom Bali meledak. Hal inilah yang akhirnya mendorong pemerintah untuk mengusulkan RUU Terorisme.

“Akhirnya pemerintah, DPR, dan organisasi masyarakat mendorong RUU Terorisme,” katanya.

Dalam disertasi ini, Sidratahta mengumpulkan sumber utama data melalui studi literatur dan wawancara mendalam dengan Megawati Soekarno Putri, AM Fatwa, Ibrahim Ambong, Permadi, Abdul Gani Abdullah, Ansyaad Mbai, Sidney Jones, Firman Djaya, Harry Prihatono dan Fajrul Falaak. Wawancara ini Termasuk orang-orang di pemerintah, DPR dan masyarakat sipil.

Sidratahta dinyatakan resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Politik, dengan predikat Sangat Memuaskan, dengan nilai IPK 3,57. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Sidratahta menyimpulkan, terorisme bersinar dengan cepat setelah orde baru, karena tidak adanya undang-undang tentang terorisme. Oleh karena itu, Presiden Megawati saat itu membentuk undang-undang anti terorisme yang komprehensif dan kuat yang didukung oleh kepolisian, sebagai lembaga anti terorisme.

“Selain itu, partisipasi aktif masyarakat sipil juga merupakan faktor yang berkontribusi,” jelasnya.

Implikasi teoretis, kata Sidratahta, menegaskan bahwa teori-teori Martha Chrensaw dan Gabriel A. Almond relevan dengan penelitian ini. Sementara teori dari William Dunn dan teori Anderson sering kali tidak benar.

“Teori-teori pendukung lainnya juga bermanfaat dalam mendukung disertasi ini,” jelasnya.

Setelah menjalani tes ujian oleh sejumlah tim penguji, akhirnya Sidratahta dinyatakan resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Politik, dengan predikat Sangat Memuaskan, dengan nilai IPK 3,57. Sidratahta resmi menjadi Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ke-116.

Baca Juga: Kapolri Jadi Penguji Sidang Promosi Doktor Sidratahta Soal Terorisme di UI

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian mengatakan, bahwa Doktor yang mengambil studi terorisme masih sangat sedikit. Oleh karenanya, dia berharap Sidratahta dapat mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya ke masyarakat.

Hal senada juga diamini oleh promotor sidang, Burhan Jabir Magenda. Menurutnya, Doktor yang mengambil studi terorisme sangat sedikit, untuk kalangan militer ada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Jenderal (purn) TNI AM. Hendropriyono.

“Sementara dari sipil sendiri itu kurang sekali bahkan jarang sekali. Saya kira Saudara Sidratahta ini merupakan aset baru dalam sejarah Doktor Terorisme dari kalangan sipil,” katanya.

Adapun tim penguji

Ketua Sidang: Julian Aldrin Pasha Rasjid M.A, Ph.D
Promotor: Prof Dr. Burhan Jabir Magenda M.A
Ko-Promotor: Dr. Isbodroini suyatno M.A

Anggota:

1. Jenderal Pol Prof. Muhammad Tito Karnavian M.A, Ph.D
2. Prof Dr. Maswadi Rauf
3. Chusnul Mar’iyah Ph.D
4. Meidi Kosandi M.A Ph.D,
5. Dr. Sri Budi Eko Wardani M.Si