Agar Tak Mudah Dibodohi Hoaks, Ketum PGK Imbau Anak Muda Perbanyak Literasi

Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi (tengah) ketika menjadi narasumber dalam diskusi KBPP Polri bertajuk 'Pemilu Damai Tanpa Hoaks, Ujaran Kebencian dan Isu SARA' di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (2/3). (Foto: Sayangi.com/Fahri)

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi mengatakan, kelembagaan demokrasi di Indonesia belum mapan. Selain itu, ada kesalahan dalam menata demokrasi hingga muncul fenomena hoaks.

“Hoaks ini dimainkan oleh orang pintar, tapi yang menyebarkan banyak orang yang kurang literasi,” kata Bursah dalam diskusi KBPP Polri bertajuk ‘Pemilu Damai Tanpa Hoaks, Ujaran Kebencian dan Isu SARA’ di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (2/3).

Bursah mengungkapkan, menurut Badan PBB yang mengani bidang pendidikan, keilmuan dan kebudayaan, UNESCO, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara dalam hal minat baca, cuma di atas negara Afrika, Botswana yang bertengger di urutan 61.

“Dari 1000 orang, hanya satu orang yang gemar membaca. Dan dari satu orang itu, durasi membacanya 30-59 menit. Menurut UNESCO, satu peradaban akan maju berkembang kalau penduduknya membaca buku 4 jam sehari minimal. Dan setiap orang memiliki 3 buku yang dibaca,” terang Bursah.

Karenanya, Bursah mengimbau, khususnya kepada anak muda untuk memperbanyak literasi. Dengan hal itu, anak muda tidak lagi mudah dibodohi oleh berita bohong atau hoaks.

Selain itu, Bursah juga menjelaskan, saat ini smartphone sudah mempengaruhi cyber space kita yang bisa berimplikasi macam-macam terhadap pertahanan, sistem kebudayaan, maupun sistem ekonomi kita.

Bursah membayangkan suatu ketika nanti kalau kita tidak memulai literasi digital dan sistem pertahanan kita tidak dimulai dengan cyber security maka akan banyak kelemahan.

“Bayangkanlah kalau suatu ketika sistem pertahanan kita dihack oleh kekuatan unit cyber negara lain, sistem air kita dihack dan lain sebagainya. Karena itu, kita perlu satu sistem cyber security menghadapi perang dunia cyber yang dikuasai hanya oleh China, AS, Israel dan Russia,” tandasnya.