Korut Berujar Latihan Perang AS-Korsel Adalah Tantangan Terbuka

Latihan gabungan militer Amerika Serikat dan Korea Utara.Foto Catch News
Latihan gabungan militer Amerika Serikat dan Korea Utara.Foto Catch News

Seoul,Sayangi.com- Belum sebulan pertemuan Hanoi usai digelar,Korea Utara sedah geram dengan pemerintahan Trump.Pemerintah Korea Utara (Korut) mengecam latihan perang gabungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) yang sedang berlangsung. Pyongyang menyebutnya sebagai “tantangan terbuka” terhadap upaya menuju perdamaian di Semenanjung Korea.

Dikutip Al Jazeera, Jumat (8/3/2019),Sabtu pekan lalu, AS dan Korea Selatan sepakat untuk mengganti dua latihan perang tahunan utama—Key Resolve dan Foal Eagle—. Latihan tersebut ditukar menjadi istilah “Dong Maeng” atau “Alliance” yang lebih singkat, yang dimulai minggu ini.

Kantor berita pemerintah Korut, KCNA menyebut Langkah-langkah buruk dari otoritas militer Korea Selatan dan AS adalah pelanggaran sembrono terhadap pernyataan bersama DPRK-AS (di Singapura) dan deklarasi Korea Utara-Korea Selatan di mana penghilangan permusuhan dan ketegangan dilakukan,

Dilaporkan sedikitnya 28.500 tentara AS yang ditempatkan di Korea Selatan. Latihan perang tahunan tentara AS dengan puluhan ribu tentara Korsel selama ini membuat Korut berang.Penguasa Pyongyang selalu mengutuk manuver gabungan itu sebagai latihan provokatif untuk menginvasi Korea Utara.

Akan tetapi pasca pertemuan puncak pertama antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura tahun lalu, pada konferensi pers saat itu,Trump mengatakan Washington akan menunda latihan perang gabungan AS dengan Korea Selatan.

Kedua pemimpin tersebut juga menandatangani perjanjian yang tidak jelas tentang denuklirisasi Semenanjung Korea. Namun Gejolak terbaru di Semenanjung Korea ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump dan Kim Jong-un mengadakan pertemuan puncak atau KTT kedua di Hanoi, Vietnam. Pertemuan ini berakhir dengan kegagalan, di mana tak ada kesepakatan atau perjanjian yang diteken kedua pihak terkait denuklirisasi Semenanjung Korea.

Pasca kebuntuan pertemuan Hanoi, para peneliti menyatakan bahwa Pyongyang sedang membangun kembali situs peluncur rudal jarak jauh Sohae. Padahal, pada tahun lalu Kim Jong-un sepakat untuk membongkarnya sebagai bagian dari langkah-langkah membangun kepercayaan.

Surat kabar Korea Selatan, JoongAng Ilbo dan Donga Ilbo, mengutip para legislator yang diberi pengarahan oleh Badan Intelijen Nasional (NIS) negara itu menuliskan pergerakan kendaraan kargo baru-baru ini terlihat di sekitar sebuah pabrik di Sanumdong di Pyongyang. Dilaporkan pabrik tersebut yang memproduksi rudal balistik antarbenua pertama Korea Utara yang mampu mencapai wilayah Amerika Serikat.