Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Akan Bahas Pembantaian Masjid Christchurch

Wakil Presiden Turki Fuat Oktay (kiri 2) dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu (kiri 3) menghadiri pertemuan antar delegasi dengan Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters (kanan 2) di Christchurch di Selandia Baru pada 17 Maret 2019. Foto TRT.com
Wakil Presiden Turki Fuat Oktay (kiri 2) dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu (kiri 3) menghadiri pertemuan antar delegasi dengan Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters (kanan 2) di Christchurch di Selandia Baru pada 17 Maret 2019. Foto TRT.com

Islamabad, Sayangi.com- Menteri Luar Negeri Pakistan Mahmood Qureshi hari Minggu (17/3) mengatakan Turki akan menjadi tuan rumah pertemuan darurat Dewan Menteri-menteri LN Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Pertemuan Darurat tersebut rencananya untuk membahas “penyebab, dampak dan mencari cara untuk mencegah terulangnya peristiwa pembantaian” di  Masjid Christchurch, Selandia Baru itu.

Qureshi mengatakan Pertemuan darurat itu adalah untuk menyusun strategi guna melawan meningkatnya Islamophobia di dunia barat. Ia sebelumnya mengukuhkan bahwa sembilan warga Pakistan tewas dalam serangan teroris di mesjid di Selandia Baru hari Jumat (15/3).

Sebelumnya Wakil presiden Turki pada hari Minggu menyerukan sikap bersama terhadap semua serangan teror selama kunjungannya ke Selandia Baru. Ia menyebut serangan kembar yang menewaskan sedikitnya 50 orang sebagai “tindakan terorisme” yang jelas.

Pernyataan Fuat Oktay datang selama pertemuannya dengan Winston Peters, wakil perdana menteri dan menteri luar negeri Selandia Baru. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga ikut menemaninya selama pertemuan yang ditutup untuk pers. Para pejabat Turki menyampaikan “kesedihan mendalam” Presiden Recep Tayyip Erdogan atas serangan berdarah yang terjadi belum lama ini.

Sementara di sela pengumuman OKi bakal gelar pertemuan, lewat jumpa pers, Qureshi mengumumkan bahwa Pakistan akan memberikan  salah seorang warganya yang tewas dalam pembantaian tersebut bakal mendapat penghargaan nasional. Orang tersebut akan dinobatkan sebagai pahlawan lantaran telah berusaha menghalangi aksi penembakan.

Mian Naeem Rashid, 50 tahun, tampak dalam video itu berusaha untuk mencegah aksi penembakan, setelah putranya yang masih kecil tewas ditembak. Malangnya ia sendiri juga menjadi korban tewas. Rashid menghembuskan nafas di rumah sakit akibat luka tembak.

sumber: trtworld.com