Korea Selatan : Hak Keseteraaan Jender Tepikan Hak Perempuan

Foto CNN
Foto CNN

Seoul,Sayangi.com- Kaum perempuan Korea Selatan mengadakan aksi unjuk rasa di Seoul terkait kesetaraan gender.Perempuan-perempuan yang melakukan unjuk rasa ini mendukung untuk mempertahankan larangan aborsi.

Peradilan tertinggi Korea Selatan diantisipasi akan segera menanggapi sebuah petisi yang minta lembaga itu mendeklarasikan larangan atas aborsi sebagai tidak konstitusional. Pembelaan dari kedua belah pihak dalam perdebatan aborsi ini sama-sama menyakinkan.

Kami telah memrotes di sini sejak Juni tahun lalu, jadi sudah lebih dari 10 bulan sekarang. Tetapi kami masih belum tahu apa keputusan pengadilan itu,” ujar seorang demonstran.

Kelompok keagamaan dan konservatif mendukung struktur hukum yang sekarang. Hukum yang berlaku saat ini menuliskan seorang perempuan yang mengakhiri kehamilannya baik dengan obat atau cara lain bisa dihukump sampai satu tahun penjara, atau dikenakan denda sekitar $1.700.

Para dokter yang memfasilitasi aborsi bisa dihadapkan pada ancaman dua tahun penjara.

Sementara itu pendukung untuk mengubah hukum ini dan melegalisasikan aborsi juga bersuara keras. Kelompok ini menggelar kegiatan apa yang dikenal sebagai “protes merah dan hitam.”

Na Young dari Aksi Gabungan bagi Keadilan Reproduktif mengatakan, “Merah dan hitam adalah warna-warna simbolis kami. Warga Korea sudah mengenakan warna hitam sejak 2010 untuk menuntut hak-hak aborsi. Warna hitam juga merupakan bentuk solidaritas dengan kelompok-kelompok protes serupa di Polandia dan negara-negara lain.

Kami juga memperagakan warna merah untuk mengirim peringatkan kepada pengadilan bahwa kriminalisasi aborsi melanggar konstitusi, dan kami mengingatkan para anggota pengadilan akan hal itu.”

Dikutip dari VOA news Kamis (11/4) perdebatan aborsi sebagaimana di tempat-tempat lainnya, juga sangat peka di Korea Selatan. Perdebatan ini menyertakan dimensi-dimensi moral dan etis yang sama seperti yang ditemukan di negara-negara lain.

Tetapi di Korea ada dimensi tambahan dan membuatnya lebih kompleks, yakni krisis demografis yang dihadapi negara ini. Pemerintah Korsel berjuang untuk mengatasi laju kelahiran yang merosot akibat perubahan ekonomi. Pemerintah juga juga dihadapkan pada masalah perempuan-perempuan muda yang membuat pilihan baru, seperti tidak melahirkan, karir dan masa depan mereka.