Gerakan BEM Jakarta Nilai People Power Berpotensi Memecah Belah Bangsa

Gerakan BEM Jakarta menyatakan sikap menolak People Power dalam konferensi pers di Resto Pempekita, Duren Tiga, Jakarta, Selatan, Kamis (16/5).

Jakarta, Sayangi.com – Pemilu serentak 2019 telah selesai, masyarakat telah menentukan siapa Capres, Cawapres dan Calegnya pada 17 April lalu. Saat ini masyarakat tengah menunggu keputusan resmi KPU pada 22 Mei mendatang.

Namun sebelum keputusan resmi, ada pihak-pihak yang telah mengklaim kemenangannya. Padahal KPU sebagai lembaga yang dipercayai dan ditugaskan untuk bertanggung jawab atas terlaksananya Pemilu hingga selesai.

Tidak hanya klaim kemenangan, ternyata tuduhan bahwa KPU melakukan kecurangan juga telah sering dimunculkan. Isu tersebut boleh saja dihembuskan asal bisa dibuktikan, namun jika isu itu tidak dapat dibuktikan, hal tersebut berbahaya.

Koordinator Gerakan BEM Jakarta (GBJ) Andi Prayoga mengatakan, setelah pemilihan usai, seharusnya masyarakat Indonesia merajut kembali persatuan antar kelompok masyarakat. Saling menyebar info hoaks, fitnah dan hasut, yang belakangan ini dilakukan oknum-oknum tertentu untuk kepentingannya, seharusnya tidak perlu dilakukan lagi.

“Toh pesta demokrasi Pemilu sudah selesai, kita sekarang tinggal menunggu hasilnya,” ujar Andi di Resto Pempek Kita, Duren Tiga, Jakarta, Selatan, Kamis (16/5).

Justru sekarang, kata Andi, para elit politik menunjukkan ketidakdewasaan dalam berdemokrasi. Nahkan ada juga yang mengancam gerakan besar yang di sebut ‘People Power’. Narasi tersebut salah satunya datang dari Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais.

“Padahal, kita ketahui gerakan itu berpotensi menimbulkan perpecahan, yang nantinya berdampak adanya korban jiwa, politik dan ketidakstabilan perekonomian,” jelasnya.

Oleh karena itu, gabungan lintas BEM Se-Jakarta yang terdiri dari BEM Kampus Stebank Islam Jakarta, Universitas Islam Jakarta, Universitas Az Zahra, Unindra, Universitas Mpu Tantular, STEMIK Jayakarta, UNTAG, Universitas At Tahiriyah, UBK, UIC, Universitas Islam As-Syafi’iyav, Uhamka, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Jayabaya dan beberapa mahasisa lainnya yang bergabung dalam “Gerakan BEM Jakarta (GBJ)” mengambil sikap tegas yakni menolak dan tidak sepakat dengan rencana adanya gerakan “People Power”.

Usai kumpulan BEM ini melakukan kajian fokus terhadap People Power dan mengetahui dampak positif dan negatif setelahnya. Ternyata dampak negatifnya lebih besar, oleh karena itu kumpulan BEM menolak rencana dilakukannya People Power.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin melakukan edukasi publik akan bahayanya People Power, dengan harapan agar masyarakat tidak ikut ikutan terbawa arus kepentingan dibalik people power. Jangan sampai masyarakat menjadi korban atas ketidaktahuannya mengenai bahayanya people power,” papar Andi.

Jika ada permasalahan dalam penyelenggaraan Pemilu, sambung Andi, selesaikan dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga siapapun Presiden terpilih yang sesuai dengan konstitusi nantinya, maka kita harus menerimanya.

“Karena sudah pilihan rakyat, pemimpin yang terpilih harus menciptakan rasa aman, damai, rukun, tertib dan bersatu bagi bangsanya. Sebaliknya pemimpin yang kalah dalam pertarungan Pilpres, tidak boleh mengedepankan egonya dengan melakukan gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan perpecahan berbahaya bagi bangsa,” jelas Presma Stebank Islam Jakarta.

Dalam kesempatan ini, Gerakan BEM Jakarta juga mendeklarasikan:

1. Siap menjaga keutuhan NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

2. Mendukung TNI-POLRI dalam melakukan pengamanan dan penegakan hukum agar terciptanya situasi yang aman, damai, rukun, tertib dan kondusif.

3. Kami menolak rencana gerakan People Power yang membahayakan Bangsa.

4. Stop menyebar info Hoax, Fitnah, hasut yang berpotensi mengakibatkan perpecahan bangsa.

5. Mari merajut silaturahmi dengan bersatu dan berkeluarga dalam bingkai NKRI.