Kerajaan Saudi Bakal Eksekusi Mati Tiga Ulama Besar

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al Saud/ Foto: AFP

Riyadh,Sayangi.com- Pemerintah Arab Saudi dilaporkan akan menjatuhkan hukuman mati terhadap tiga ulama terkemuka. Ketiganya dilaporkan akan diekse­kusi mati setelah bulan suci Ramadan.

Ketiganya sedang menunggu persidangan di Pengadilan Khusus Kriminal di ibu kota, Riyadh. Ketiganya, ditangkap pada September 2017. Pada bulan ini pemerintah Saudi juga menahan puluhan tokoh terkemuka dalam dugaan tindakan antikorupsi. Kesemua penangkapan tersebut dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Penangkapan mereka memicu kecaman PBB, serta beberapa kelompok HAM terkemuka, termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International.

Hal tersebut mengacu pada dua sumber pemerintah dan salah satu kerabat Ulama tersebut itu. Middle East Eye,pada Selasa, (23/5) melaporkan tiga orang, tersebut diantaranya Sheikh Salman al-Awdah, Awad al-Qarni, dan Ali al-Omari.

Al-Awdah ialah cendekiawan Islam progresif yang terkenal secara internasional dan digambarkan oleh para ahli PBB sebagai reformis.Al-Awdah, yang memiliki lebih dari 13 juta pengikut di Twitter. Ia ditangkap lantaran mem-posting tweet berisi referensi yang jelas tentang hubungan antara Arab Saudi dan tetangganya di Teluk, Qatar.

Riyadh memelopori blokade udara, laut, dan darat yang diberlakukan di Qatar sejak Juni 2017. Langkah ini didukung oleh tiga negara Arab lainnya: Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. “Semoga Tuhan menyelaraskan di antara hati mereka untuk kebaikan umat mereka,” kata Al-Awdah dalam tweet itu.

Sementara Al-Qarni ialah seorang pengkhotbah, akademisi, dan penulis. Dan Al-Omari ialah penyiar­ populer.Saat awak media mengkonfirmasikan hal ini, tidak ada komentar dari otoritas Saudi.

Kepada Middle East Eye, seorang sumber anonim berujar “Mereka (Saudi) tidak akan menunggu untuk mengeksekusi orang-orang ini begitu hukuman mati telah dijatuhkan.

Dan Sumber pemerintah Saudi lainnya mengatakan eksekusi 37 warga negara bulan lalu itu digunakan sebagai uji coba untuk mengukur kekuatan kecaman internasional.

Saudi sering menuai kritik internasional atas dugaan pelanggaran HAM, termasuk penindasan untuk menahan warga negaranya. Dalam laporan Januari 2018, para pakar PBB mengutuk kerajaan terus menggunakan kontra terorisme dan hukum yang berkaitan dengan keamanan terhadap pembela hak asasi manusia.

“Meskipun terpilih sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia pada akhir 2016,Saudi sering menuai kritik internasional atas dugaan pelanggaran HAM. Dalam laporan Januari 2018, para pakar PBB mengutuk kerajaan terus menggunakan kontra terorisme dan hukum yang berkaitan dengan keamanan terhadap pembela hak asasi manusia.

Laporan tersebut juga memnuat bahwa Arab Saudi telah melanjutkan praktik pembungkaman. Otoritas Arab Saudi juga melakukan penangkapan sewenang-wenang, penahanan, dan penganiayaan para pembela HAM dan kritikus.

sumber : Aljazeera