Kapolri Akui Ada Ketidaknyamanan Dalam Penanganan Kasus Purnawirawan Jenderal TNI

Kapolri jenderal Muhammad Tito Karnavian. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian mengakui, Polri merasa tidak nyaman menangani kasus hukum purnawirawan perwira tinggi TNI. Seperti diketahui, dua purnawirawan perwira tinggi TNI saat ini tersandung kasus hukum, Kivlan Zen tersandung kasus dugaan makar dan Soenarko tersandung kasus dugaan kepemilikan senjata ilegal.

“Penanganan kasus purnawirawan bagi TNI tentu secara pribadi dan institusi ini jujur menimbulkan ketidaknyamanan. Bagi Polri sendiri juga nggak nyaman,” ujar Tito di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (13/5).

Meskipun demikian, Tito mengaku, soliditas TNI dan Polri tidak akan goyah dengan adanya kasus ini. Polri dan TNI sama-sama paham bahwa sinergitas antar dua institusi ini mutlak diperlukan.

“Tapi ya hukum harus berkata demikian, ada azas persamaan di muka hukum, semua orang sama di muka hukum,” jelasnya.

Tito menjelaskan, proses hukum yang saat ini dijalani dua purnawirawan perwira tinggi TNI ini akan berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku. Sehingga meskipun tidak nyaman, namun Polri dan TNI tetap menghormati prinsip kesamaan di muka hukum.

“Untuk masalah Bapak Kivlan Zen saya kira karena sudah banyak tersangka lain yang sudah ditangkap, termasuk calon eksekutor senjatanya ada empat. Saya kira meskipun tidak nyaman kita harus jelaskan kepada masyarakat, harus diproses di pengadilan,” tegasnya.

Meskipun demikian, Tito menepis rumor yang menyebut Polri mengatakan Kivlan Zen merupakan dalang aksi kericuhan di depan gedung Bawaslu. Polri hanya menyebut aksi kericuhan tersebut telah direncanakan, mengingat para perusuh telah menyiapkan beberapa alat seperti bom molotov.

“Tolong dikoreksi bahwa dari Polri tidak pernah mengatakan dalang kerusuhan itu adalah Pak Kivlan Zen, ngvak pernah. Yang disampaikan oleh Kadiv Humas saat press release di Polhukam adalah kronologi peristiwa di 21 dan 22 Mei dimana ada dua segmen, yakni aksi damai dan aksi yang sengaja untuk melakukan kerusuhan,” tegasnya.