Testimoni Para Korban Perbudakan Seks Tentara ISIS

Korban perbudakan Seks Tentara ISIS. Foto You Tube
Korban perbudakan Seks Tentara ISIS. Foto You Tube

Mosul,Sayangi.com- Anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terbilang kejam. Kelompok ini terbilang banyak menculik dan membunuh banyak anggota komunitas,

Tidak sedikit banyak anggota yang tertipu dengan modus perekrutan ISIS. Jika sudah masuk perangkap ISIS, maka mereka akan terjebak.Banyak wanita terjebak menjadi korban ISIS. Banyak wanita yang disandera anggota ISIS dan dijadikan budak seks.

Tentara ISIS menebar terror hingga menculik penduduk yang kemudian mereka jadikan budak. Kebanyakan gadis-gadis baik yang masih muda maupun yang sudah matang, diculik. Setelah mencapai kamp para gadis gadis ini dipaksa berdiri di dinding sementara para pria meraba-raba dada mereka.

“Jika dia memiliki payudara, maka dia ‘sudah siap’ untuk diperkosa,” kata seorang korban Yazidi dikutip dari New York Post.

“Jika dia tidak memiliki payudara, mereka menahannya di sana selama tiga bulan . Dan tentara ISIS akan kembali untuk melihat apakah telah tumbuh (payudaranya), sementara itu mereka kembali datang untuk memastikan apakah mereka sudah ‘siap’ diperkosa,” tambahnya.

Selain wanita matang, ada gadis lain berusia 13 tahun yang mengalami trauma hingga tak bisa bicara akibat mengalami penyiksaan dari militan ISIS. Menurutnya para perempuan ditangkap ISIS itu ditahan di sebuah bangunan yang dijaga para militan di sebuah desa di selatan Kota Mosul.

Ribuan gadis lain yang berasal dari Irak dan Suriah juga mengalami tindakan yang sama, mereka diculik dan dijadikan budak. Pengalaman dan kisah getir ini diceritakan oleh Nikita Malik dari Henry Jackson Society melalui News.com.au.

Perbudakan seks telah menjadi komoditas yang menguntungkan bagi kelompok militan ISIS dalam beberapa tahun terakhir. Disebutkan pada 2016 lalu, ISIS menghasilkan uang antara 12 juta dolar AS hingga 38 juta dolar AS (sekitar Rp170 miliar-Rp567 miliar).

Selain menjadi komoditas yang menghasilkan uang, para budak seks juga dijadikan obligasi antar pejuang dan digunakan sebagai hadiah untuk para pejuang. Seorang wanita bernama Jovan (bukan nama sebenarnya) asal Yazidi ini rela meninggalkan anak laki-lakinya.

Ia melahirkan anaknya saat menjadi budak seks ISIS. Saya ingin sekali membesarkan anak saya, tapi tidak bisa. Masyarakat di sini tidak akan menerima dia. Tak ingin melukai perasaan masyarakat Yazidi dengan kehadiran anaknya maka anak Jovan ditampung di salah satu panti asuhan anak yatim di Mosul di Irak utara. Menurut Jovan masyarakat Yazidi sangat menjaga kemurnian keturunan mereka.

Sakineh Muhammed Ali, pengelola panti asuhan di Mosul menuturkan “Saya menerima banyak anak-anak, Kristen, dari etnik Turk, Shabak. Namun tak ada yang membuat pilu seperti melihat anak-anak yang dilahirkan perempuan Yazidi.