Mengulik Capres AS Andrew Seorang IT

Andrew Yang akan mencalonkan menjadi Presidem AS Medatang. Foto Busines Insider
Andrew Yang akan mencalonkan menjadi Presidem AS Medatang. Foto Busines Insider

San Francisco, Sayangi.com- Keruntuhan pakem politik dan ekonomi white, anglo saxon, protestant (WASP) yang selama telah mendominasi Amerika Serikat membuka jalan bagi orang-orang dari kelompok minoritas untuk menggunakan hak mereka. Jalan tersebut memungkinkan warga minoritasuntuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden.

Meniru jejak Obama, Andrew Yang yang lahir dari orangtua imigran asal Taiwan juga berniat mengisi bursa untuk Pilpres 2020. Uniknya ia akan bertarung di Partai Demokrat sebagai kendaraan politik, ia sanggup menarik simpati dari para pendukung Donald Trump.

Kampanye yang diusung Yang adalah masalah di sektor teknologi sebagai platform utama. Di antara 25 kandidat presiden dari Demokrat, Yang dianggap publik dan media Amerika Serikat sebagai terunik.

Lembaga Politico AS menulis sebenarnya laki-laki 44 tahun itu punya kesamaan dengan Donald Trump di ekstrem kanan dan Bernie Sanders (capres Demokrat lainnya) di ekstrem kiri.

Mereka bertiga sama-sama menggunakan kekecewaan terhadap ekonomi sebagai modal kampanye. Bedanya Yang secara spesifik menyebut teknologi menjadi sumber masalahnya. Salah satu fokus Yang adalah dampak otomasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) terhadap lapangan pekerjaan.

Dikabarkan Yang pernah menyerang perusahaan teknologi raksasa
Andrew Yang, Amazon, perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat. Dilansir dari The Verge,Sabtu (20/7) saat berkampanye di Boston Yang berkata kepada 500-an pendukungnya,bahwa “Sayangnya, pekerjaan paling umum di Amerika Serikat adalah retail.”

Ia menambahkan bahwa rata-rata pekerja retail menerima gaji kurang dari USD11 atau setara Rp153 ribu per jam. Saat ini, senat AS sedang membahas untuk menaikkan gaji minimum USD15 atau Rp208 ribu per jam.

Terkait perkembangan teknologi, Yang menilai perusahaan teknologi bertanggung jawab dalam potensi hilangnya banyak lapangan kerja. Di waktu lain, ia menyinggung Tesla. Menurutnya, ada 3,5 juta sopir truk yang takkan bisa lagi bekerja karena perusahaan milik Elon Musk tersebut akan mengganti truk manual dengan yang otomatis.

Meskipun tidak sedikit yang menuduh Yang tak lebih dari Trump. Namun ada garis tegas yang membedakan Yang dan Trump. Yang pernah  berkecimpung di sektor teknologi. Ia juga pernah menjadi CEO dari sebuah startup.

Baik Yang atau Trump sama-sama datang dengan latar belakang pengusaha dan belum pernah menjadi pejabat publik,¬†Dalam sebuah video kampanye, ia mengklaim Trump “bukan pengusaha” karena profesi yang dijalani adalah “membangun tim” sedangkan presiden Amerika Serikat itu justru memecah-belah.