Pukulan Pertama Boris Johnson Sebagai Perdana Menteri Baru Inggris

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto Getty Image
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto Getty Image

London, Sayangi.com Belum sebulan berkuasa PM Inggris Boris telah dikejutakn Pemilu legislatif susulan di Brecon dan Radnorshire hari Kamis (01/08). Kejutan pemilu dimenangkan calon dari Partai Demokrat Liberal Inggris yang pro-Uni Eropa, Jane Doods. Partai Demokrat Inggris berhasil mengalahkan petahana dari Partai Konservatif Chris Davies. Jane Dodds menang dengan 1.425 suara atas Chris Davies.

Hilangnya kursi dari South Wales ini berarti partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sekarang hanya memegang mayoritas dengan satu kursi di House of Commons. Total seluruhnya 320 kursi dari 639 kursi di di Parlemen.

Dilaporkan Hasil pemilu susulan ini akan mempersulit upaya pemerintahan Boris Johnson mendapat dukungan parlemen bagi agenda Brexitnya. Kondisi ini juga membuatn Bpris rentan terhadap mosi tidak percaya. Tuntutan mosi tidak percaya dapat sewaktu-waktu diajukan pihak lawan untuk memaksakan pemilihan umum.

Setelah hasil pemilu susulan diumumkan, Jean Dodds mengatakan: “Tindakan pertama saya sebagai anggota parlemen baru ketika saya tiba di Westminster adalah menemui Tuan Boris Johnson. D mana pun Boris bersembunyi, saya akan mengatakan katakan padanya untuk berhenti bermain-main dengan masa depan komunitas dan rencana Brexit tanpa kesepakatan.”

Setelah terpilih menggantikan Theresa May sebagai ketua Partai Konservatif dan otomatis sebagai Perdana Menteri Inggris yang baru, Boris Johnson berulang kali menegaskan dia akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa, sampai batas waktu 31 Oktober. Boris mengatakan akan melaksanakan Brexit, sekalipun tanpa perjanjian (No Deal Brexit). Dan dia berujar akan membawa Inggris Jaya kembali.

Pekan ini saat berkunjung ke Irlandia Utara hari Rabu (31/07), Boris Johnson menghadapi kritik tajam dari kalangan partai politik dan dari para demonstran yang menyambutnya.

Ketua Partai Sinn Fein Mary Lou McDonald mengatakan, kalau No Deal Brexit yang terjadi, itu adalah “bencana” bagi ekonomi, masyarakat dan proses perdamaian di Irlandia. Para demonstran yang berunjuk rasa di Belfast juga menegaskan: “Kami tidak akan mengizinkan hal itu terjadi”.

 

sumber : Sunday Mirror