Buntut Demontrasi Hongkong 200 Penerbangan Batal

Pembubaran demontran oleh polisi Hongkong.
Pembubaran demontran oleh polisi Hongkong.

Hongkong, Sayangi.com- Demonstrasi besar di wilayah Hong Kong hari Senin kemarin(05/08) telah berimbas pada gangguan pada layanan kereta komuter dan pembatalan lebih dari 200 penerbangan. Sebagian besar penerbangan yang terdampak adalah penerbangan maskapai setempat, Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines.

Demonstrasi, yang semula digelar untuk menentang RUU Ekstradisi, kini telah berlangsung selama sembilan akhir pekan berturut-turut. Setelah bentrokan pada Sabtu dan Minggu, polisi kembali menembakkan gas air mata ke arah pemrotes pada Senin.

Dilaporkan akibat demontrasi terowongan antar pelabuhan ditutup selama tiga hari berturut-turut. Terkait demontrasi, menurut panitia penyelenggara, lebih dari 14.000 orang dari 20 sektor berjanji turut mengambil bagian dalam mogok kerja. Situasi ini terjadi di seluruh Hong Kong pada Senin, meski jumlah pastinya tidak diketahui.

Pemimpin Eksekutif Hong Hong Kong, Carrie Lam, memperingatkan bahwa demonstrasi yang semakin kental diwarnai kekerasan mendorong Hong Kong ke “ambang situasi yang sangat berbahaya”. Tak segan segan selama demontrasi, pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan dan melumpuhkan layanan kereta selama jam sibuk pagi hari.

Dalam keterangan pertama kepada media selama dua minggu terakhir, Carrie Lam mengatakan tindakan pemrotes menantang prinsip “satu negara, dua sistem” dan mengancam kemakmuran dan stabilitas Hong Kong.

Kita terus membiarkan pengunjuk rasa yang suka menggunakan kekerasan ini memanfaatkan RUU ekstradisi untuk menutupi motif terselubung,” tegas Lam.

Adapun gangguan yang paling dirasakan warga adalah transportasi. Keadaan Transportasi sangat terganggu, mulai dari bus, kereta api dan juga taksi. Mereka tidak bisa melalui jalur yang menjadi pusat aksi.

Semula unjuk rasa dipicu oleh penentangan terhadap rancangan undang-undang ekstradisi (RUU Ekstradisi) yang memungkinkan pengiriman terduga kejahatan ke China untuk diadili. Namun tuntutan aksi belakangan meluas ke berbagai hal, antara lain reformasi demokrasi dan kebebasan berbicara.

sumber : BBC