Akankah Turki Tetap Jadi Mitra NATO Yang Bisa Dipegang

Presiden Turki Erdogan (gambar tengah) tengah berbincang dengan Sekjen Nato Jens Stoltenberg. Foto AP
Presiden Turki Erdogan (gambar tengah) tengah berbincang dengan Sekjen Nato Jens Stoltenberg. Foto AP

Brusell,Sayangi.com- Setelah mendatangkan senjata dari Rusia sejumlah pemangku kebijakan  muncul pertanyaaan ,Akankah Turki bisa dipercayai sebagai mitra NATO? Sejumlah penyusun kebijakan dan analis luar negeri khawatir hal itu tidak bisa terjadi.

Ancaman minggu ini oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk melancarkan invasi militer ke daerah mayoritas Kurdi di Suriah utara memunculkan kemungkinan pertikaian sengit. Pertikaian tersebut bakal terjadi antara Ankara dan NATO, termasuk Amerika, yang bermitra dengan kelompok Kurdi Suriah untuk menumpas ISIS.

Para Analis menyebutkan hubungan Erdogan menghangat dengan Presiden Rusia Vladimir Putih, pembelian sistem pertahanan udara Rusia yang canggih oleh Turki, serta juga strateginya di Suriah telah bertentangan dengan mitra NATO lainnya. Semua ini telah merenggangkan hubungan Turki dengan pihak Barat dan mendekati keretakan.

Dikutip dari VOA News Rabu (7/8)pejabat Pentagon juga mengungkapkan rasa frustrasi mereka dengan tanda-tanda pendekatan yang dilakukan Erdogan terhadap Iran.

Krisis hubungan Turki-NATO kini memanas seperti pada 1974, saat Turki melakukan invasi terhadap Siprus. Namun ironisnya tidak ada mekanisme bagi pengeluaran negara anggota NATO dari organisasi pertahanan itu.

Akan tetapi Gedung Puth dan berbagai negara Eropa di kalangan penyusun kebijakan dan analis luar negeri, pembicaraan semakin nyaring, apakah Turki bisa bertahan di dalam NATO?. Atau dan apakah sudah saatnya bagi Turki keluar atau dikeluarkan dari persekutuan tersebut.