Komunitas Latin Texas Salahkan Trump

Foto National Geographic
Foto National Geographic

Texas,Sayangi.com- Warga Latin di Texas, AS, pada Senin (5/8) menyuarakan ketakutan mereka terhadap beberapa peristiwa penembakan massal yang akhir-akhir ini terjadi di ‘Negeri Paman Sam’.

Warga Texas menganggap kejadian ini merupakan kejahatan rasial paling mematikan yang pernah dilakukan terhadap komunitas mereka. Dalam penembakan 22 orang di sebuah toko Walmart di El Paso, Texas, Sabtu (3/8) lalu, delapan warga negara Meksiko termasuk di antara mereka yang tewas.

Terkait peristiwa berdarah Texas, warga menyalahkan Presiden Donald Trump atas pembantaian bersenjata tersebut. Menurut komunitas Latin, penembakan massal itu dapat langsung dikaitkan dengan retorika kebencian terhadap minoritas yang telah berkembang sejak pemilihan Trump pada 2016.

Retorika presiden Trump telah mengipasi api perselisihan di negara ini,” ujar Kepala Koalisi Hak Asasi Manusia yang berbasis di Los Angeles, Angelica Salas. Dan ketika dia lebih suka kekacauan, dia kemungkinan besar senang melihat konflik antarkomunitas meningkat,” tambahnya.

Dominique Diaz, seorang penduduk El Paso, mengatakan fakta bahwa penembak itu –Patrick Crusius, 21 tahun– telah menargetkan wilayah yang sebagian besar dihuni warga Hispanik. Hal itu mencerminkan meningkatnya rasialisme dan sentimen antiimigran di AS.

Direktur Eksekutif Jaringan Pengorganisasian Hari Nasional Buruh yang berbasis di Los Angeles, Pablo Alvarado, menyebut penembakan di El Paso merupakan deklarasi perang melawan Hispanik.

“Tindakan kekerasan yang mengerikan ini merupakan deklarasi perang melawan komunitas kami.Kami telah beralih dari kambing hitam menjadi sasaran kekerasan rasial yang tidak masuk akal ini,” ujar Pabli. Komunitas Latin Texas juga menengarai bahwa rangkaian penembakan ini tidak lepas dari menguatnya supremasi kulit putih sejak Trump menjabat Presiden AS.

Luz Gallegos dari pusat hukum TODEC mengatakan penembakan itu telah menebarkan ketakutan di kalangan warga Hispanik yang tidak lagi merasa aman.Gallegos mengatakan Presiden Trump telah mengubah hukum negara, memberdayakan kelompok supremasi kulit putih, dan memberi mereka lampu hijau untuk bertindak atas kebencian mereka

sumber: AFP